Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Memahami Anjuran Berpakaian Bersih

Sabtu 17 Nov 2018 18:22 WIB

Rep: Yusuf Asshidiq/ Red: Agung Sasongko

Aneka koleksi gamis

Aneka koleksi gamis

Foto: antara
Nabi SAW tidak menginginkan seorang Muslim membiarkan dirinya berpakaian kotor

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- ''Kebersihan sebagian dari iman.'' Sabda Rasulullah SAW itu sudah begitu melekat dalam kehidupan umat Muslim. Memang, dalam Islam, ada standar higenitas (kesehatan) yang tinggi yang harus diwujudkan secara nyata dalam keseharian.

Salah satu hal yang senantiasa dianjurkan Rasulullah terkait kebersihan yakni mengenakan pakaian bersih. Ada dua tujuan, yakni agar terhindar dari kuman penyakit, serta menampakkan penampilan menarik.

Berdasarkan riwayat, Nabi SAW tidak menginginkan seorang Muslim membiarkan dirinya berpakaian kotor serta lusuh, apalagi dia memiliki sarana untuk membersihkannya.  Rasulullah SAW bersabda, ''Tidak ada sesuatu yang salah dengan memakai dua kain pada hari Jumat, (yang merupakan) bagian dari pakaian sehari-hari seseorang.''

Dalam menafsir hadis di atas, Dr Muhammad Ali al-Hasyimi, mengungkapkan, anjuran itu sudah sangat jelas, bahwa hendaknya setiap Muslim senantiasa berpakaian bersih dalam rangka menjaga kesehatan jasmani dan rohani. ''Nabi SAW menganggap berpakaian yang bersih sebagai sebuah pengungkapan syukur atas rahmat Allah SWT,'' katanya.

Ulama terkemuka, Syekh Yusuf al-Qaradhawi,  menegaskan, Islam meletakkan kesucian (kebersihan) dalam posisi yang tinggi. Sehingga tidak akan diterima ibadah shalat seseorang sebelum pakaian, badan dan tempat shalatnya dalam kondisi bersih.

Dijelaskannya, pada zaman Rasulullah SAW, lingkungan tempat tinggal kaum Muslim masih  lekat dengan suasana pedesaan padang pasir. Sehingga, urusan kebersihan seakan diremehkan. Lalu, Nabi SAW  memberikan bimbingan dan tuntunan bagi umatnya untuk lebih memerhatikan masalah kebersihan diri.

Jadi, sambung Syekh al-Qaradhawi, pakaian bukan semata sebagai sarana penutup aurat, akan tetapi sangat penting untuk merawat kebersihan dan kesehatan tubuh. ''Sekaligus menjadi penanda kepribadian seseorang,''  ujarnya dalam buku /Halal dan Haram dalam Islam/.

Dr Muhammad juga berpendapat pakaian yang bersih sekaligus untuk menunjukkan penampilan rapi dan menarik. Diriwayatkan dalam al-Tabqat, Jundab ibnu Makith RA berkata: bahwa di manapun sebuah delegasi hendak menemui Rasulullah, beliau akan memakai pakaian terbaiknya. Nabi SAW pun memerintahkan para sahabat untuk melakukan hal yang sama.

Bahkan, sejumlah hadis lain menunjukkan Nabi SAW tak sekadar menjaga pakaiannya tetap bersih, tetapi menambahkann pula dengan wewangian. Maka, tak heran jika selalu tercium  aroma harum dari pakaian dan tubuh beliau.

Imam Bukhari menyebutkan dalam al-Tarikh al-Kabir, diriwayatkan dari Jabir, bahwa Nabi SAW tidak pernah melewati suatu tempat kecuali seseorang yang mengikuti beliau akan mengetahui bahwa beliau berada di sana dari bau (aroma) beliau yang melekat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Mengenang Tragedi Rawagede Karawang

Selasa , 11 Dec 2018, 23:21 WIB