Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Dua Prinsip Tauhid Ibadah

Jumat 31 Aug 2018 17:50 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Agung Sasongko

Ibadah/ilustrasi

Ibadah/ilustrasi

Foto: wordpress.com
Tauhid uluhiyah diwujudkan dengan dua prinsip, yaitu syahadat dan ikhlas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pembahasan mengenai tauhid menjadi pembahasan yang tak akan berujung dan penting untuk di dalami. Namun, tak sedikit orang yang justru menghindari pembahasan ini, karena dianggap sensitif.

Dalam ceramah agama berjudul dua prinsip tauhid ibadah, yang digelar di Masjid al-Azhar Summarecon Bekasi, Ustaz Hasan al-Jaizy Lc mengangkat pembahasan tauhid yang selama ini kerap keliru karena sering dilewatkan bahkan dihindari dalam kajian-kajian agama. Salah satu pembahasan yang diangkat adalah kekeliruan tentang tauhid uluhiyah.

Menurut Ustaz Hasan, tauhid ulu hiyah adalah mengesakan Allah SAW dengan perbuatan, dan hanya diperkenankan beribadah kepada Allah SWT serta tidak berbuat syirik sedikit pun.

Namun, Ustaz Hasan mengakui hingga kini, masih banyak yang salah mengartikan prinsip tauhid uluhiyah, sehingga tak sedikit dari umat Islam yang terjerumus dalam perbuatan syirik.

"Banyak yang justru mengartikan tauhid uluhiyah sebagai keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah, padahal ini masuknya ke tauhid rubibuyah," kata Ustad Hasan kepada para jamaah di Masjid al-Azhar Summarecon Bekasi, Senin (27/8).

Dia menerangkan bahwa sejatinya, tauhid uluhiyah diwujudkan dengan dua prinsip, yaitu syahadat dan ikhlas. Dua prinsip tersebut, kata dia, harus dipegang teguh oleh setiap umat muslim, bahkan hingga maut memanggil.

Karena, menurut dia, awal keislaman dibuka dengan pembacaan syahadat, kehidupan dijalani dengan keikhlasan untuk beribadah kepada Allah dan kematian insya Allah akan dihantarkan pula oleh syahadat.

Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang akhir kalimatnya (sebelum meninggal) adalah la ilaha illa Allah maka dipastikan dia masuk surga.

"Jawaban dari pertanyaan ma laikat Munkar dan Nakir di dalam kubur, sejatinya sangat mu dah namun akan menjadi sangat sulit bagi siapa saja yang tidak bertauhid," kata Ustaz Hasan.

Dia menceritakan bahwa pernah ada seorang pemuda datang kepada salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Khuzaifah bin al-Yaman, lalu pemuda itu berkata: Wahai Khuzaifah, saya takut saya tergolong dalam orang-orang munafik.

Lalu Khuzaifah menjawab: Jika kamu munafik kamu tak akan takut seperti ini.

Maksud dari perkataan Khuzai fah ini adalah jika pria itu seorang munafik maka dia tidak akan memiliki perasaan takut seperti yang dia keluhkan. Sama seperti orang yang ikhlas, yaitu orang yang khawatir dirinya tidak ikhlas.

Sebaliknya orang yang tidak ikhlas adalah orang yang tak pernah khawatir tentang perbuatan riya atau sombong karena dia selalu merasa sudah baik. Padahal orang seperti itu sangat berpotensi memiliki sikap munafik.

"Kita singgung munafik karena keikhlasan sangat rentan dengan kemunafikan.

Maka pasti kan bahwa segala ibadah dilaku kan dengan ikhlas dan bukan untuk mendapatkan simpati atau sanjungan dari orang lain, ujar Ustaz Hasan.

Salah satu kesalahpahaman yang juga menjadi sorotan dalam ceramahnya adalah kebiasaan berziarah umat Muslim yang berujung pada perilaku syirik. Ustaz Hasan menjelaskan, sejatinya Rasulullah SAW menyarankan umat Islam untuk berziarah kubur agar manusia senantiasa mengingat kematian.

Ironinya masih banyak orang yang pergi ke tempat keramat untuk mencari wangsit atau meminta peruntungan urusan- urusan duniawi, ujarnya. Selama ini orang hanya mengartikan syirik sebagai perbuatan yang menyetujui bahwa ada pencipta selain Allah SWT, padahal masih banyak lagi jenis syirik, salah satunya dengan meminta pertolongan kepada selain Allah SWT, katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES