Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Innalillahi, Kiai Karismatik Saifuddin Amsir Meninggal Dunia

Kamis 19 July 2018 10:46 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Karta Raharja Ucu

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menggunggah foto saat ia mencium almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir di rumah sakit.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menggunggah foto saat ia mencium almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir di rumah sakit.

Foto: Foto: Instagram
Abuya Saifuddin Amsir adalah ulama yang sangat dihormati umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun. Telah berpulang guru serta kiai panutan umat Muslim khususnya di Jakarta, Abuya KH Saifuddin Amsir pada Kamis (20/7). Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 01.20 WIB di Rumah Sakit OMNI Pulomas.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengunggah kabar meninggalnya KH Saifuddin di akun media sosialnya, Instagram. Ia mendoakan ahli fikih dari Betawi tersebut agar amal ibadahnya diterima Allah SWT.

Dilansir dari NU Online, warga Nahdliyin Jakarta pasti mengenal kiai kharismatik ini. Saifuddin bin Amsir Naiman al-Batawiy adalah salah seorang ulama Betawi terkemuka abad ke-21. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang sangat berpengaruh di Jakarta.

Beberapa karya yang telah diraciknya dari pelbagai literatur klasik karangan para sarjana masa lalu merupakan bukti kecerdasan dan keluasan ilmu yang dimiliki KH Saifuddin Amsir. Sejumlah karyanya merupakan masterpiece yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.

Karyanya yang telah dicetak antara lain Tafsir Jawāhir al-Qur’ān (empat jilid), Majmū’ al-Furū’ wa al-Masāil (tiga jilid), dan al-Qur’ān, I’jazan wa Khawāshan, wa Falsafatan. Selain beraliran tafsir falsafi, kitab ini merupakan racikan dari beberapa tema dari kitab Jawāhir al-Qur’ān (hlm. 1-140), al-Dzahāb al-Ibrīz fi Khawāsh al-Qur’ān al-Aziz (142-172),Qānūn al-Ta’wīl (173-184).

Ketiganya karya Hujjat al-Islām Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazāli ath-Thūsī asy-Syāfi’ī. Kitab ini juga terinspirasi dari beberap kitab. Antara lain Fadhāil al-Qur’ān karya Syeikh al-Hāfidz Ibn Katsir (hlm. 175-312), ‘Ajāib al-Qur’ān karya Syeikh Fakhruddin al-Rāzī (hlm. 313-475), dan al-Dur al-Nadzim fi Khawāsi al-Qur’ān al-Karīm karya Imam al-Yafi’i (hlm. 477-623).

Komentar yang ditulis Kiai Saifuddin Amsir menyertai tiap bahasan yang dinukil dari kitab-kitab tersebut. Dalam menyusun karyanya, Rais Syuriah PBNU ini memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jāz (Kemukjizatan), Khawās (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an.

Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid. Kiai Saifuddin sempat mengatakan pemikiran brilian al-Ghazali tak hanya menjadi rujukan para sarjana Muslim, tetapi juga sarjana non-Muslim.

photo

Abuya KH Saifuddin Amsir

Semasa hidupnya, KH Saifuddin dikenal sebagai orang yang taat. Di luar kesibukannya berkarya, ia masih tetap istiqamah menggawangi berbagai majlis ta’lim yang tersebar di seantero Jakarta. Hari-harinya penuh jadwal pengajian di berbagai tempat.

Kiai Amsir akrab disapa Abuya oleh masyarakat Betawi. Ia merupakan sosok yang rendah hati. Tak jarang, santri yang senantiasa menyertainya merasa akrab bak teman sejawat. Namun, ketika sedang mengajar atau di atas mimbar, kharismanya menguasai.

Kemampuan panggungnya ini menarik para politisi untuk mendekat agar bersedia bergabung dengan partai tertentu. Namun, Kiai Amsir dengan halus menolak semua politisi yang melobinya. Meski demikian, ketika PBNU membidani kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kiai Amsir pernah bergabung lantaran penghormatannya yang besar kepada Gus Dur.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 August 2018, 23:56 WIB