Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Kota Bandung Semakin Mudah Hadirkan Wisata Halal

Senin 16 Juli 2018 19:13 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Esthi Maharani

Pengunjung menikmati suasana alam di tempat wisata Hutan Pinus di Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (17/6).

Pengunjung menikmati suasana alam di tempat wisata Hutan Pinus di Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (17/6).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Atraksi, aksesibilitas, hingga amenitas dianggap sudah lengkap

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Menteri Pariwisata, Arief Yahya menilai wisata di Kota Bandung telah paripurna. Hal ini berdasarkan keberadaan atraksi, aksesibilitas, hingga amenitas (3A) Kota Bandung yang dianggapnya sudah lengkap.

Menurutnya, dengan memiliki 3A,  Kota Bandung maka akan semakin mudah menghadirkan wisata halal. Ia mencontohkan wisata dari segi fesyen salah satu magnet wisatawan datang ke Bandung karena fesyennya.

“Pakain muslim itu banyak digemari oleh siapapun. Menjadikan Bandung sebagai pusat mode fesyen. Dengan memberikan nama Halal Turism, akan lebih mudah dan umum. Iitu kan friendly untuk semua wisatawan,” ujar Arief usai menghadiri acara Halalbihalal dan Gebyar Seni Budaya Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi), di Kampus STIE Ekuitas, (15/7).

Arief mengatakan, atraksi yang dimiliki Kota Bandung sudah mencapai kelas dunia. Bahkan, kegiatan pariwisata di Kota Bandung semakin berkembang. Namun, Arief menyarankan dalam hal aksesibilitas wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung harus dikembangkan. Apalagi Bandara Internasional Husein Sastranegara hanya mampu menampung sekitar 500 ribu wisatawan.

“Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati (BIJB) salah satu opsi akses yang perlu diandalkan. Jika ada direct flight di sana, itu bisa kurang dari 2 jam perjalanan, kalau tolnya sudah selesai,” katanya.

Sementara menurut Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial memastikan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung akan memperkuat destinasi yang telah ada.

“Jika ingin memperkuat destinasi wisata, dibutuhkan sikap proiritas untuk destinasi yang akan dikembangkan,” katanya.

Terkait wisata halal, oded memprioritaskan dari segi makanan atau kuliner dan tempat ibadah. Menurutnya, dua hal tersebut menjadi hal utama untuk kegiatan wisatawan yang datang nantinya.

“Tentu jika sudah di-branding sebagai wisata halal, maka tempat destinasi seperti kuliner harus halal dan dilengkapi dengan musala yang bagus jadi orang lebih nyaman,” ujar Oded.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 Agustus 2018, 23:56 WIB