Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Temu Peneliti Keagamaan Perkuat Kajian Internasional

Jumat 13 Juli 2018 18:39 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas'ud

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas'ud

Foto: istimewa
Penelitian keagamaan di Indonesia masih dalam proses pembenahan.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Temu peneliti keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) yang diikuti sekitar 180 peneliti mengagendakan penguatan kajian bertaraf internasional. Langkah ini diupayakan agar hasil kajian bisa diakses dunia internasional sehingga memberikan manfaat lebih luas.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas'ud mengatakan, upaya tersebut sudah dilakukan meski dengan kekurangan di sana-sini. Dia menyebut produk penelitian selama satu dasawarsa terakhir menitikberatkan pada internasionalisasi kajian.

Beberapa bahkan mendapatkan akreditasi internasional dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) seperti Jurnal Analisa dari Balai Litbang Agama Semarang. "Sesuai instruksi Menteri Agama juga setidaknya minimal sinopsis atau abstraksi penelitian harus dibaca dunia," kata dia di sela-sela Temu Peneliti Keagamaan, di Tangerang, Jumat (13/7).

Kendati demikian, Abdurrahman mengakui secara umum penelitian keagamaan di Indonesia masih dalam proses pembenahan. Ini menekankan pada dua persoalan utama, yaitu pertama peningkatan kualitas penelitian baik dari segi sumber daya manusia (SDM) atau produknya.

Tim Ad Hoc dibentuk dalam rangka peningkatan jaminan mutu penelitian. Kontrol atas jaminan mutu diakui memang belum berjalan maksimal. Kendala pun dihadapi dalam upaya perbaikan ini salah satunya adalah minimnya rekrutmen sejak tiga tahun terakhir.

"Tetapi ini kita selesaikan dengan memberikan kesempatan ASN bidang lain terbuka juga bergabung sebagai peneliti, contohnya kita ada peneliti yang memiliki latar belakang bidang penyuluh agama," ujar dia.

 

Dia melanjutkan, persoalan kedua adalah bagaimana menjadikan hasil penelitian bermanfaat riil untuk kepentingan publik. Jangan sampai produk-produk penelitian terhenti pada teori-teori yang melangit tanpa menyentuh bumi.

Atas dasar inilah, pihaknya mengeluarkan surat edaran pada 2017. Penekananan dua hal ini pun menjadi agenda prioritas. Ke depan, pihaknya mengusulkan agar integrasi dan sinkronisasi kebermanfaatan penelitian dengan kebijakan yang ada di Kemenag bisa diperkuat melalui peraturan menteri.

"Agenda besar 2019 Litbang jadi ruh kebijakan dari Kemenag," kata dia dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (13/7).

Guru besar antropologi Universitas North Florida, Ronald Lukens-bull menekankan pentingnya jejaring peneliti internasional. Kolaborasi internasional merupakan hal penting untuk kepentingan ekonomi di bidang ilmu pengetahuan, dan peneliti internasional yang saling terhubung cenderung menjadi lebih produktif.

Lebih jauh, kesamaan bidang penelitian antarpeneliti juga dapat membangun kepercayaan dan hubungan dari berbagai latar belakang dan budaya. Dia menjelaskan meski dalam beberapa tahun terakhir ini telah banyak dibuat MoU dalam bidang penelitian antara perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi di luar negeri, namun realisasi di lapangan dalam menindak lanjuti MoU tersebut masih sangat sedikit.

Eksekusi di lapangan lebih bersifat personal individual selama ini. Karena itulah dia mendorong jejaring peneliti internasional yang lebih intens lagi. "Saya rasa Indonesia punya potensi besar dalam membangun jejaring itu," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 Agustus 2018, 23:56 WIB