Tuesday, 4 Zulqaidah 1439 / 17 July 2018

Tuesday, 4 Zulqaidah 1439 / 17 July 2018

Kiai Cholil Ingatkan Pilpres Bukan Medan Perang

Kamis 12 July 2018 17:24 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Teguh Firmansyah

KH Cholil Nafis.

KH Cholil Nafis.

Foto: Dok MASK
Umat diimbau tak saling memaki satu sama lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis mengingatkan kepada seluruh umat bahwa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang bukanlah medan perang. Karena itu, menurut dia, antarumat seharusnya tidak saling memaki satu sama lain demi mendukung pasangan calon yang dukung.

"Pemilihan presiden yang akan datang bukanlah dalam suasana perang antarkontestan, tetapi suasananya adalah persaingan antaranak bangsa," ujar KH Cholil seusai menjadi moderator kegiatan Silaturahim dan Dialog Kebangsaan Bersama Menteri Agama di Hotel Ciputra, Jakarta, kemarin.

Dia bersyukur bisa bersilaturahim dengan umara dan ulama dalam dialog yang juga dihadiri perwakilan ormas Islam tersebut. Menurut dia, setiap pembicaraan dalam acara silaturahim akhir-akhir ini, juga tak lepas dari konteks politik.

Kiai Cholil menambahkan, pelaksanaan pilkada serentak beberapa waktu lalu yang berjalan dengan aman dan damai patut dilanjutkan. Pada pilpres mendatang, masing-masing calon juga harus menerima kekalahannya dan proses pemilihan harus dijalankan dengan baik. Begitu juga, hukum juga harus ditegakkan seadil-adilnya. "Pada proses pilpres pembicaraan kita bagaimana sukses pilkada dapat dilanjutkan," ucap pengasuh Ponpes Cendikia Amanah ini.

Baca juga, Cawapres dari Islam Moderat Banyak Dilirik di Pilpres.

Dia berharap pada pilpres nanti umat juga bisa menyadari bahwa semua elemen bangsa ingin mengisi kemerdekaan dan memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Karena itu, menurut dia, saat proses pemilihan tidak perlu memaksakan orang lain untuk mendukung pasangan calon yang sama.

"Dan, saat kita memilihnya pun tak perlu memaksakan orang lain, tetapi kita menghargai perbedaan," kata KH Cholil. Dia menambahkan, persaingan adalah mengadu ide, mengadu strategi memenangkan sebuah permainan.

Seperti sportivitas adalah pangkal dari pengakuan terhadap keunggulan yang lain dan menyadari terhadap kelemahan diri dan diserahkan kepada pilihan rakyat. "Oleh karena itu, kita tak perlu memaki dan merendahkan dari saingan dalam pemilihan presiden. Mari kita berstrategi yang cerdas dan juga bermain yang apik sehingga proses pemilihan presiden itu menjadi arena yang menghibur dan menyenangkan," ujarnya menjelaskan

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES