Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Tak Mudah Memasukkan Islam Wasatiyah ke Kurikulum

Jumat 06 Jul 2018 05:45 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Ani Nursalikah

Siswa SD Islam.

Siswa SD Islam.

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Hal ini penting untuk mencegah paham radikalisme menyentuh sekolah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan sekretaris jenderal Kementerian Agama Bahrul Hayat mengatakan tak mudah memasukkan Islam wasatiyah (moderat) ke dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, terdapat counternarrative yang menjadi penghalang, yaitu radikalisme.

Ia menuturkan, di lapangan, Islam wasatiyah akan berhadapan dengan gerakan-gerakan counternarrative tersebut, seperti kekuatan transnasional dan formalisasi agama. "Ini pekerjaan rumah berat mengenalkan dalam kurikulum," ujar Bahrul dalam FGD Penguatan Kurikulum 2013 dalam Menumbuhkan Islam Wasatiyah di PBNU, Kamis (5/7).

Menurut Wakil Ketua Badan Pengelola Masjid Istiqlal ini, jika tidak ditangani, akan terjadi benturan keras di lapangan. Ia berpendapat, isu radikalisme menguat karena hegemoni politik dan ekonomi.

Selain itu, karena terjadinya ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik, termasuk pemahaman yang hanya literal. Bahrul menambahkan, sikap-sikap agar Islam wasatiyah dapat tumbuh perlu dimasukkan ke dalam kurikulum.

Setidaknya terdapat tujuh karakter wasatiyah yang harus dimasukkan, yakni tawasuth (moderat), i'tidal (keadilan), tasamuh (toleran), syuro (konsensus), islah (public benefit), qudwah dan muwathonah. Menurutnya, tujuh karakteristik tersebut pun harus disampaikan dengan bahasa Barat agar dapat diterima.

Sikap tersebut, kata Bahrul, akan tumbuh apabila mempunyai pengalaman kognitif dan pengalaman. Ia mendorong sekolah dapat membiasakannya.

"Bagainana tujuh nilai ini dimasukkan ke dalam pengalaman kognitif dan pengalaman. Jangan terlalu doktrin nilai," kata Bahrul.

Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU, Arifin Junaidi mengatakan kurikulum yang ada saat ini sudah bagus. Hanya saja ada yang perlu dibenahi dalam hal silabus sehingga dapat mencegah paham radikalisme menyentuh sekolah.

Arifin menilai kelompok yang menginginkan khilafah masuk ke semua komponen. Tujuan akhir mereka jelas bagaimana menjadikan khilafah sebagai sistem.

Misalnya materi-materi yang dimasukkan, yaitu membid'ahkan amalan kelompok yang tak sepaham dengan mereka. "Materinya diarahkan ke sana," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA