Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

JK: Muhammadiyah dan NU Harus Saling Melengkapi

Rabu 04 Jul 2018 21:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Diskusi terbuka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah (ilustrasi)

Diskusi terbuka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah (ilustrasi)

Foto: ROL/Abdul Kodir
Kemajuan ekonomi umat dapat dicapai dengan semangat wirausaha.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) mendorong Muhammadiyah meningkatkan kemajuan ekonomi umat melalui kewirausahaan. Menurutnya, organisasi Islam terbesar seperti Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran besar dalam memajukan ekonomi umat.

"Salah satu yang belum berkembang ialah enterpreneurship umat, maka gerakan ini penting dan organisasi (Muhammadiyah dan NU) tentu yang paling besar punya peran," ujar JK di Kantor PP Muhammadiyah, Rabu (4/7).

JK menilai, Muhammadiyah dan NU merupakan organisasi Islam yang memiliki pergerakan berbeda dan saling melengkapi. Oleh karena itu, ia berharap kedua organisasi besar Islam ini saling mengisi untuk mencapai tujuan yang sama.

"Banyak pesantren NU yang punya beda-beda kiai sama kayak franchise, tapi kalau Muhammadiyah holding company. Apa beda franchise dan holding? Kalau berdiri sendiri enterpreneurhsip-nya menonjol, tapi kalau holding company yang menonjol manajerialnya," kata JK.

photo

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla

Kemajuan ekonomi umat dapat dicapai dengan semangat wirausaha. JK menilai, ilmu tentang wirausaha dapat diperoleh, sementara semangat wirausaha harus didorong. Oleh karena itu, Muhammadiyah dan NU harus bersinergi memajukan semangat wirausaha umat.

"Tak ada orang yang bisa begitu banyak mengelola universitas, rumah sakit, panti asuhan yang bisa dikelola secara nasional, karena itu saya bilang bagaimana Muhammadiyah dan NU harus saling melengkapi," ujarnya.

Di sisi lain, partai-partai politik Islam sudah semakin matang. JK mengatakan, partai politik Islam saat ini sudah mulai berkoalisi dengan partai nasional. Bahkan ideologi partai Islam dan partai nasional kini sudah semakin tak kentara.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB