Tuesday, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 December 2018

Tuesday, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 December 2018

SDM untuk Ekonomi Masjid Belum Siap

Senin 25 Jun 2018 16:45 WIB

Rep: Idealisa Masyrafinah/ Red: Agung Sasongko

Pekerja mengerjakan pembangunan masjid. (ilustrasi)

Pekerja mengerjakan pembangunan masjid. (ilustrasi)

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Masjid memiliki fungsi pemberdayaan ekonomi umat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Masjid Indonesia (DMI) menilai sumber daya manusia (SDM) di masjid belum benar- benar siap dalam mengembangkan perekonomian masjid.

Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni menjelaskan, pemberdayaan fungsi masjid seharusnya tidak hanya untuk menunaikan ibadah khusus semata (ibadah mahdhah) tapi juga pemberdayaan ekonomi umat.

"Soal yang menyangkut kesiapan masjid, jika mau jujur, dapat saya katakan bahwa manusia masjidnya-lah yang belum benar-benar siap. Ini kendala utama yang sering dialamatkan secara salah kaprah bahwa masjidnya belum siap. Padahal sebenarnya masjidnya yang justru sudah siap," ujar Imam kepada Republika.co.id, Senin (25/6).

Menurut Imam, cara pandang masyarakat muslim pada umumnya masih sangat konservatif terhadap masjid. Padahal secara historis peran masjid pada zaman Nabi Muhammad dan era para sahabat jauh lebih progresif dari saat ini.

Ia menilai masjid sepertinya by design telah dialienasi dan dimarginalisasi dari urusan bisnis dan kehidupan transaksional pola pasar.

"Mungkin ini ada pengaruh dari pola zuhudisme (zuhudiyah) yang menjauhkan kita dari dunia dan ekonomi umumnya termasuk ekonomi pasar," jelas Imam.

Selain itu, kendala mendasar dalam usaha pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid adalah justru umat mengalami kemiskinan konsepsional dan persepsional. Praktek perekonomian non-islami atau konvensional saat ini lebih berkembang dan memenuhi seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Sementara itu, masyarakat menilai ekonomi Islam tidak akan bisa berlangsung dalam masyarakat dan negara yang bukan islam.  Ini menurutnya merupakan kekeliruan konsepsional fundamental.

"Bukankah masjid kita yang ratusan ribu jumlahnya ini juga dibangun dan berdiri dalam masyarakat dan negara yang kita proklamasikan bukan negara Islam? Jika masjid bisa maka ekonomi berbasis masjid pastilah bisa. Ini bisa kita gerakkan dan DMI akan menggerakkannya," kata Imam

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES