Tuesday, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 December 2018

Tuesday, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 December 2018

JK: Jangan Lagi Pertentangkan Keislaman dan Keindonesiaan

Sabtu 23 Jun 2018 12:23 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Esthi Maharani

JK Terima Gelar Doctor HC bidang Pemikiran Politik Islam

JK Terima Gelar Doctor HC bidang Pemikiran Politik Islam

Foto: Istimewa
Mempertentangkan keduanya jelas tidak menguntungkan bagi kehidupan kita

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Wakil Presiden Jusuf kalla (JK) mengungkapkan prinsip Islam memainkan peranan sangat penting dalam pembentukan semangat kebangsaan Indonesia. Menurut JK, hal itu dapat dilihat dalam sejarah dan dinamika umat Muslimin Indonesia. Karena itu, JK mengajak semua pihak tidak lagi membuat jarak, apalagi mempertentangkan antara keIslaman dengan semangat kebangsaan atau keindonesiaan.

"Membuat jarak, apalagi mempertentangkan keduanya jelas tidak menguntungkan bagi kehidupan kita sebagai umat Muslimin dan sekaligus sebagai warga tanah air Indonesia," kata Wapres JK saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk 'Aktualisasi Prinsip Islam dalam Penguatan Semangat Kebangsaan’ di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Sabtu (23/6).

Menurut JK, Islam adalah ajaran dari Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW, menduduki tempat tertinggi dan mulia dalam kehidupan setiap dan seluruh Muslim. Oleh karena itu, Islam harus ditempatkan dalam ketinggian dan

kemuliaan.

"Tidak mereduksinya ke dalam realitas dan fenomena empiris-sosiologis seperti semangat kebangsaan atau nasionalisme," ujar JK.

(Baca: JK Terima Gelar Doctor HC bidang Pemikiran Politik Islam)

Sedangkan semangat kebangsaan (nasionalisme) lanjut JK, yang merupakan produk manusia terbentuk karena berbagai faktor seperti sejarah, perkembangan dan dinamika sosial, budaya dan keagamaan masyarakat Indonesia. Dalam riwayatnya yang panjang, semua faktor ini berkombinasi memainkan peran dalam pembentukan semangat kebangsaan.

Wapres JK melanjutkan, sebagai faktor pemersatu, Islam juga mendorong tumbuh dan menguatnya ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan/solidaritas sesama Muslim di antara berbagai suku dan etnis yang berbeda.

“Kita dapat melihat pertumbuhan ukhuwah wathaniyah yang menjadi dasar semangat kebangsaan tumbuh, berkembang dan menguat dari ukhuwah Islamiyah,” katanya.

Dalam orasi ilmiahnya itu, JK juga mengutip jawaban Syekh Rasyid Ridha saat ditanya oleh KH Basuni Imran, karena menyaksikan tumbuh dan meningkatnya semangat kebangsaan umat Muslimin, termasuk di Indonesia dalam rangka menghadapi kolonialisme Eropa ketika jaman itu.

Dalam suratnya, cerita Wapres, Syekh Rasyid Ridha menyatakan semangat kebangsaan tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan menurut ulama mufassir, penulis Tafsir al-Manar bersama gurunya Syekh Muhammad Abduh, cinta tanah air itu adalah bagian daripada iman.

“Iman seseorang Muslim tidak lengkap jika dia tidak mencintai tanah airnya,” kata Wapres.

Dalam kesempatan itu, Wapres juga dianugerahi gelar Kehormatan Doctor Honoris Causa dalam bidang pemikiran politik Islam dari Universitas Muslim Indonesia. Wapres JK tak lupa menyampaikan ungkapan terimakasih dan selamat atas peringatan hari lahir atau Milad ke-64 Universitas Muslim Indonesia (UMI).

UMI menurut JK, merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di tanah air dan mampu bertahan di tengah perubahan dan gejolak zaman.

"Atas nama pemerintah, saya ingin menyampaikan terima kasih, apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas jasa dan  pengabdian UMI dalam turut memajukan umat dan bangsa Indonesia melalui pendidikan tinggi yang berkualitas bagi anak-anak bangsa," ujar JK.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES