Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Menelisik Awal Perkembangan Musik Religi di Indonesia

Senin 11 Jun 2018 21:30 WIB

Rep: Wilda Fizriyani / Red: Agus Yulianto

 Suasana dan kegiatan Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang di Klojen, Senin sore (11/6).

Suasana dan kegiatan Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang di Klojen, Senin sore (11/6).

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Musik religi keislaman memiliki masa sebulan sebelum lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, Selama Ramadhan hingga lebaran, musik religi selalu menjadi tren tersendiri di masyarakat. Nuansa kegamaan pada musik ini acap menjadi favorit masyarakat Indonesia selama sebulan penuh. 

Berbagai artis Indonesia pun banyak yang telah menelurkan album religinya setiap tahunnya. Bahkan, ada segelintir penyanyi yang hanya muncul di saat-saat bulan suci Ramadhan. 

Melihat hal ini, banyak orang tentu penasaran bagaimana perkembangan awal musik religi di Indonesia. Seniman sekaligus Pemerhati Musik dari Kota Malang, Redy Eko Prastyo mencoba menelusuri awal perkembangan musik religi di Indonesia. Di antara sejumlah pendapat, Redy justru menilai, awal perkembangan musik religi di Indonesia kemungkinan besar terjadi sejak 1936.

"Ini berdasarkan referensi atau bukti yang sejauh ini kita temukan," kata salah satu perintis Kampung Budaya Cempluk saat ditemui wartawan di Museum Musik Indonesia (MMI) di Klojen Kota Malang, Senin sore (11/2).

Redy menemukan bukti keberadaan musik religi pada 1936 dari konversi audio pada video YouTube. Di referensi tersebut terdengar audio bernuansa Melayu lama dengan judul "Selamat Hari Raya". Lagu itu dinyanyikan Miss Aminah dengan nama pencipta, Tengku Alibasha @ Che Ara Bangsawan. 

Penemuan audio tersebut, kata dia, jelas sangat menarik dan menjadi tambahan referensi keberadaan musik religi di Indonesia. Audio tersebut jelas dikonversi dari piringan hitam zaman dahulu. Kemudian ditampilkan ke dalam bentuk video di YouTube dengan foto template nuansa zaman dahulu.

Redy belum memastikan apakah lagu tersebut benar-benar musik religi pertama di Indonesia. Sebab, sejauh ini bukti referensi keberadaan musik religi pertama baru audio tersebut. Hingga saat ini, dia melanjutkan, bukti referensi musik religi Indonesia masih sangat kurang.

Hal yang pasti, Redy meyakini, tren musik religi terutama terkait keislaman sudah mulai ada sejak masa pasca kemerdekaan. Lebih tepatnya setelah lagu Taufik Ismail dan Bimbo mulai merebak di ruang lingkup warga Indonesia. Kemudian disusul dengan grup-grup musik seperti Gigi, Ungu dan sebagainya hingga saat ini.

Adapun alasan musik religi lebih tren di Ramadhan, Redy menilai, ini karena masa di bulan tersebut lebih panjang. Dengan kata lain, faktornya bukan hanya karena bersamaan dengan momen ibadah yang lebih kuat di Ramadhan. "Momentum religi islam di Ramadhan lebih panjang dibandingkan agama  lainnya," kata dia. 

Redy mengatakan, musik religi keislaman memiliki masa sebulan sebelum lebaran. Ditambah lagi durasi saat lebaran dan setelahnya yang jelas lebih panjang dibandingkan agama lainnya. "Kalau hari agama lainnya durasinya lebih pendek, satu atau dua hari. Kalau musik religi Islam punya momen pra kondisi Ramadhan, saat Ramadhan, lebaran dan setelah lebaran," jelas pria asal Situbondo ini.

Di kesempatan sama, Ketua MMI Hengki Herwanto mengaku belum memiliki data rinci perihal perkembangan awal musik religi di Indonesia. Namun hal yang pasti, kata dia, musik religi Islam dan nuansa gereja berkembang baik di Indonesia. Dalam hal ini, musik qasidah, shalawat, marawis dan paduan suara bernuansa pujian Tuhan sudah lama dikenal masyarakat. 

"Dan saat ini kami juga tengah mengupayakan informasi tentang musik agama lainnya seperti Hindu, Budha atau Konghucu. Lalu kita juga beberapa bulan lalu ada profesor dari Amerika Serikat yang berencana mau meriset musik Islami di Indonesia," jelasnya.

Lain halnya dengan Redy, Hengki justru berpendapat, perkembangan awal musik religi kemungkinan terjadi sekitar 1956. Hal ini diungkapkan berdasarkan label musik pemerintah, Lokananta yang mulai berdiri sejak 1956. Dari sini, dia menilai, kemungkinan besar terdapat satu lagu religi yang hadir di masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, Hengki juga mengutarakan, temuan musik pertama di Indonesia yang diperoleh dari relief Candi Jago di Tumpang, Kabupaten Malang. Di relief peninggalan Kerajaan Singosari tersebut ditemukan empat instrumen musik yang salah satunya berupa dawai. "Dan itu masih tanda tanya apa musiknya religi atau bukan," kata dia.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES