Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Eksperimen Sosial AADC Sadarkan Masyarakat

Rabu 23 Mei 2018 15:19 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/Nabila Farabilah/ Red: Agung Sasongko

Wanita mengenakan cadar.

Wanita mengenakan cadar.

Foto: EPA
Masih ada prasangka buruk terhadap mereka yang mengenakan cadar dan celana cingkrang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eksperimen sosial Ada Apa Dengan Cadar dinilai perlu untuk terus disosialisasikan. Selain simpatik, aksi tersebut dapat meluruskan kesalahpahaman tentang Islam.

Anggota DPR RI Komisi IV Zainut Tauhid Sa'adi mengakui, memang ada sebagian masyarakat yang memiliki prasangka buruk terhadap orang yang menggunakan cadar atau celana cingkrang. Oleh karena itu, eksperimen semacam 'Ada Apa dengan Cadar' diharapkan juga dapat memperbaiki prasangka orang terhadap pengguna cadar ataupun celana cingkrang.

"Cadar dan celana cingkrang selalu dikonotasikan dengan paham keagamaan yang keras dan radikal," kata politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

Padahal, lanjut dia, semua orang harus meyakini bahwa sebagian masyarakat Muslim meyakini cadar dan celana cingkrang merupakan bagian dari keyakinan melaksanakan ajaran agama. Pilihan sebagian masyarakat Muslim tersebut tentunya harus dihargai.

Presenter Indoneisa yang juga merupakan figur publik Fenita Arie menilai, gerakan-gerakan semacam itu diperlukan. Sebab, dengan adanya gerakan semacam itu, dapat menyadarkan masyarakat bahwa agama Islam adalah agama yang bersahabat dan hangat.

photo

Sosial eksperimen wanita bercadar di depan salah satu pusat perbelanjaan Kota Sukabumi mendapatkan respon positif dari warga Selasa (22/5) sore.

Perempuan yang baru-baru ini memutuskan untuk berhijab ini pun menegaskan, sebagai pemeluk agama Islam sendiri pun sebenarnya juga mengalami ketakutan terhadap terorisme. Sebagai manusia, juga merasakan terancam adanya kekerasan yang mungkin datang, tanpa memandang agama.

“Kita pun dengan adanya teroris ini pun kita merasa terancam. Dalam artian, terancamnya orang menganggap pemeluk agama kita itu tidak baik, mengajarkan kekerasan, dan lain-lain. Padahal sama sekali itu tidak diajarkan dalam agama kita,” kata dia.

Oleh sebab itu, dia menegaskan, adanya gerakan ini dapat membuka mata sebagian orang bahwa pemeluk agama Islam bukanlah identik dengan terorisme. Sehingga orang-orang tak perlu takut bersahabat dengan pemeluk Islam, terutama yang menjalankan ajaran niqab atau cadar.

“Nah kadang memang gerakan-gerakan seperti ini itu supaya orang itu melek bahwa kita itu nggak gitu,” jelasnya.

Sebelumnya, Ustaz Ahmad Zaki Ali menginisiasi eksperimen AADC ini di sebuah wilayah perbelanjaan di Jakarta Selatan. Semenjak itu, di beberapa wilayah lainnya juga dilakukan hal serupa.

Eksperimen tersebut kemudian diabadikan melalui sebuah video. Di dalam video, ditunjukkan beberapa orang laki-laki yang mengenakan celana cingkrang sementara perempuannya mengenakan cadar. Mereka kemudian membawa tulisan 'PELUK SAYA JIKA ANDA MERASA AMAN DENGAN KEBERADAAN SAYA'.

Beberapa menit berselang, ternyata tidak sedikit masyarakat yang melewati mereka dan memutuskan memberi sebuah pelukan. Beberapa masyarakat juga terlihat berfoto bersama para peserta eksperimen.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES