Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Komisi Dakwah MUI Pertanyakan Logika Shalat Tarawih di Monas

Ahad 20 May 2018 14:21 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Teguh Firmansyah

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis

Foto: ROL/Fakhtar Khairon Lubis
Tak jauh dari Monas ada Masjid Istiqlal yang mampu menampung puluhan ribu jamaah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemprov DKI Jakarta berencana mengadakan tarawih akbar yang akan dilaksanakan di Lapangan Monumen Nasional pada 26 Mei 2018. Lokasi ini dipilih karena sebagai simbol Jakarta dan menjadi tempat pemersatu umat.

Namun Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis mengaku heran dengan ide yang digagas oleh Wakil Gubernur Sandiaga Uno ini. Sebab, tak jauh dari kawasan Monas terdapat Masjid Istiqlal, tempat ibadah yang mampu menampung puluhan ribu jamaah.

"Saya kok ragu ya kalau alasannya tarawih di Monas untuk persatuan. Logikanya apa ya?Bukankah Masjid Istiqal yang megah itu simbol kemerdekaan, kesatuan dan ketakwaan," ucapnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jakarta, Ahad (20/5).

Sebab, menurutnya, sebaiknya lokasi shalat itu di masjid karena memang tempat bersujud. Bahkan, Nabi SAW selama Ramadhan itikaf di masjid bukan di lapangan.

"Shalat tarawih merupakansebagian dari shalat malam, maka lebih baik sembunyi atau di masjid," ujarnya.

Nabi saw bahkan hanya beberapa kali shalat tarawih bersama sahabat di masjid. "Makanya kalau salat di Monas karena persatuan sama sekali tak ada logika agamanya dan kebangsaannya. Pikirkan yang mau disatukan itu komunitas yang mana?, ungkapnya.

Untuk itu, ia mengajak umat untuk menggunakan logika secara sehat demi kebangsaan dan keagamaan. "Shalat Ied aja yang untuk syiar masih lebih baik di masjid kalau bisa menampungnya. Meskipun ulama ada yangmengajurkan di lapangan karena syiar tapi masjid masih lebih utama," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, shalat tarawih di Monas akan tetap dilaksanakan walaupun MUI mengkritik hal itu. MUI juga menyarankan untuk melaksanakan shalat tarawih di Masjid Istiqlal.

"Ya itu masukan yang baik, jadi tentunya kita juga menentukannya tidak semena-mena, kita minta pandangan daripada para ulama," ujar Sandiaga Uno saat ditemui usai meresmikan Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara, Ahad (20/5).

Apalagi dalam pelaksanaannya, Pemprov DKI telah mengantisipasi jika terjadi luapan massa pada saat pelaksanaan shalat tarawih di Monas, bahkan itu menjadi salah satu pembahasan utama. Sehingga, kekhawatiran tidak cukupnya di dalam Masjid Istiqlal, pihaknya memilih Monas sebagai tempat shalat tarawih bersama.

"Salah satu concern kemarin itulah bagaimana kalo kita membeludak keinginannya, ada masjid yang ditentukan seperti Masjid Istiqlal tidak mencukupi," papar pengusaha muda itu.

Dengan adanya shalat tarawih bersama di Monas itu, diharapkan ini mampu mempersatukan seluruh masyarakat DKI Jakarta. Pemilihan tempat di Monas itu sendiri, merupakan keinginan dari masyarakat Jakarta, dan tentunya sudah dikonsultasikan dengan para ulama

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES