Senin, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 Desember 2018

Senin, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 Desember 2018

Teladan Bagi Remaja Muslimah

Senin 14 Mei 2018 16:23 WIB

Rep: Heri Ruslan/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Dakwah Muslimah. (Republika/ Prayogi)

Ilustrasi Dakwah Muslimah. (Republika/ Prayogi)

Foto: Republika/Prayogi
sejarah Islam menjadikannya sebagai sosok yang patut diteladani para remaja Muslimah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ia adalah wanita yang penuh dengan kemuliaan. Akhlaknya begitu menakjubkan. Sehingga, sejarah Islam menjadikannya sebagai sosok yang patut diteladani para remaja Muslimah. Wanita yang namanya tetap bersinar sepanjang masa itu adalah Ummu  Kultsum binti Ali bin Abu Thalib.

Ummu Kultsum adalah  putri keempat dari pasangan Ali bin Abu Thalib dengan dengan Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW. Ia dibesarkan dalam keluarga yang termasuk ahli surga. Betapa tidak. Kakeknya adalah pemimpin umat manusia, Nabi Muhammad SAW.

Ayahnya, Ali bin Abu Thalib, termasuk  pada golongan assabiqunal awwalun dan Khalifah keempat yang memimpin umat Islam. Selain itu,  ibu yang melahirkannya – Fatimah RA – tercatat sebagai pemimpin wanita di surga. Dua saudara kandungnya, Hasan dan Husein  juga ahli surga.

Dalam binaan keluarga yang penuh dengan keteladanan dan kemuliaan itulah Ummu Kultsum tumbuh. Tak heran, Umar bin Khattab tertarik dengan kemuliaan dan keanggunan perangai Ummu Kultsum. Pada suatu hari, Umar pun melamarnya secara langsung kepada Ali.

Namun, lamaran pertama itu ditolak sang ayah. Ali beralasan usia putrinya masih belia.  Umar tak patah semangat. Ia lalu berkata kepada sahabatnya itu: ‘’Nikahkan aku dengan putrimu wahai Abul Hasan, karena aku melihat kemuliaan dirinya yang tak bisa dilihat oleh orang lain.’’

Saat Umar melamar Ummu Kultsum, Ali sempat bertanya,’’ Apa yang kamu inginkan darinya?’’ Umar menjawab, ‘’Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebabku dan nasabku sendiri'.’’

 

Setelah Umar berhasil meyakinkan dirinya, Ali pun menerima lamaran itu. Ia lalu menikahkan Umar dan Ummu Kultsum. ‘’’Aku telah menyerahkannya kepadamu jika kamu meridhainya dan aku telah menikahkanmu dengannya,’’ ujar Ali. Umar menikahi Ummu Kultsum dengan mahar sebesar 40 ribu dirham.

Keduanya memulai hidup baru pada Zulqa’dah tahun 17 Hijriyah. Ummu Kultsum menjadi istri Umar hingga Amirul Mukminin itu terbunuh. Pasangan ini dikarunia dua anak, Zaid bi Umar al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar.

Sebuah peristiwa penting yang dialami  Ummu Kultsum sebagai istri dari seorang Khalifah terjadi pada sebuah malam. Sebagai pemimpin umat,  Umar  berkeliling memantau kondisi masyarakat. Ketika rakyatnya tidur terlelap, Umar melihat dari dekat keadaan rakyat yang dipimpinnya.

Semua itu dilakukan Umar untuk memastikan tak ada rakyatnya yang kelaparan atau membutuhkan pertolongan. Ketika berkeliling  di pinggir kota Madinah, Umar bertemu dengan seorang Badui yang sedang gelisah di depan sebuah kemah. Khalifah mendengar rintihan seorang wanita yang sedang kesakitan dalam kemah itu.

Sang Amirul Mukmini segera  bergegas  mendatangi kemah itu. Umar pun menanyakan kondisi wanita yang ada  dalam kemah itu. Awalnya  si Badui itu menolak menjawab, karena tak tahu bahwa yang bertanya adalah seorang Khalifah. ‘’Pergilah kamu! Semoga Allah merahmatimu dan jangan lagi menanyakan masalah yang bukan urusanmu,’’ teriak si Badui mengusir.

Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab Umar tak sakit hati atau marah. Ia tetap bertanya dan mendesak si Badui menceritakan apa yang terjadi pada wanita di dalam tenda itu. Karenaterus mendesak akhirnya si Badui itu berkata,’’ Istriku sedang kesakitan karena mau melahirkan sementara tidak ada seorang pun yang menolongnya.’’

Mendengar jawaban itu Umar segera pulang ke rumahnya. Ia menemui Ummu Kultsum dan berkata, ‘’Apakah kamu ingin mendapat pahala yang Allah akan limpahkan kepadamu?’’ Ummu Kultsum menjawab dengan antusias, ‘’Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?’’

 Lalu Umar menceritakan peritiwa yang baru dilihatnya itu. Ia lalu mengajak sang istri untuk membantu persalinan wanita istri Badui tersebut. Ummu Kultsum bergegas menyiapkan peralatan persalinan bayi dan Umar memanggul gandum serta membawa minyak samin.

Ummu Kultsum bergegas masuk ke dalam kemah dan menolong wanita Badui hingga melahirkan bayinya. Sementara  Umar bergegas memasak makanan di luar kemah. Ketika bayi telah lahir, Ummu Kultsum secara spontan berseru dari dalam kemah, ‘’Wahai Amirul Mukminin, sampaikan kepada temanmu itu bahwa ia dikaruniai anak laki-laki.’’

Mendengar ucapan Ummu Kultsum si Badui dan istrinya pun kaget. Ia sama sekali tak menduga bahwa orang yang memasak untuk mereka adalah Amirul Mukminin. Peristiwa itu menggambarkan betapa seorang pemimpin sejati sangat mencintai rakyatnya dan mau melayani mereka yang membutuhkan.

Sungguh pada diri Ummu Kultsum dan Umar terdapat teladan yang patut dan layak ditiru setiap Muslim dan Muslimah.

Sumber: Wanita Teladan karya Mahmud Mahdi al- Istanbuli dan Mustafa Abu Nashr asy-Syibli.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES