Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Tiga Amalan yang Perlu Diperbanyak pada Bulan Ramadhan

Jumat 04 May 2018 08:06 WIB

Red: Irwan Kelana

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS (kiiri) mengisi kajian Tarhib Ramadhan di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5).

Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS (kiiri) mengisi kajian Tarhib Ramadhan di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5).

Foto: Dok SBBI
Ketiga amalan tersebut adalah tartil Quran, shalat sunah, dan sedekah.

REPUBLIKA.CO.ID,

BOGOR – Bulan Ramadhan yang dirindukan sebentar lagi datang. Sudah selayaknya kaum Muslimin memanfaatkan Ramadhan untuk memaksimalkan amal ibadahnya. Baik kesalehan ritual kepada Allah maupun kesalehan sosial kepada sesama umat manusia, khususnya sesama Muslim.

Menurut guru besar IPB, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, selain ibadah puasa, paling tidak ada tiga ibadah lain yang penting untuk dilaksanakan dan ditingkatkan dengan sebaik mungkin.

“Ramadhan merupakan momentum bagi kaum Muslimin untuk meningkatkan amal ibadahnya. Perbanyaklah tartil Quran, shalat sunah, dan sedekah atau infak,” kata Kiai Didin saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) sekaligus Tarhib Ramadhan di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5).

Ia menjelaskan, pertama adalah memperbanyak tartil Quran. Tartil Quran bukan sekadar membaca Alquran, melainkan membaca Alquran dan mempelajari makna dan kandungannya. “Menjelang Ramadhan, buatlah target tartil Quran selama Ramadhan. Misalnya, membaca dan mempelajari kandungan surat al-Baqarah. Baca dan pelajarilah kandungannya dengan sebaik mungkin. Surat al-Baqarah merupakan surat yang sangat penting kita baca dan pelajari sebab memuat berbagai pesan penting dalam Alquran. Sekitar 70 persen kata-kata dalam Alquran ada di surat al-Baqarah,” kata Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor.

Apa yang selama ini dilakukan masyarakat pada bulan Ramadhan, yakni tadarus, itu baik. Namun, yang harus dipahami, tadarus itu bukan sekadar membaca Alquran, melainkan juga mempelajari makna dan pesannya. “Jadi, bukan sekadar target jumlah surat yang kita baca selama Ramadhan, misalnya satu kali khatam, melainkan juga kita coba pahami makna dan pesan yang terkandung dalam surat-surat dan ayat-ayat yang kita baca tersebut,” tutur mantan ketua umum Baznas tersebut.

Kedua, kata Kiai Didin, Ramadhan merupakan momentum untuk memperbanyak shalat sunah, terutama shalat Tarawih dan shalat Tahajud atau qiamulail. “Laksanakanlah shalat Tarawih dengan sebaik mungkin. Jangan terburu-buru. Baik yang memilih delapan rakaat maupun 20 rakaat, silakan. Intinya adalah laksanakan shalat Tarawih tersebut dengan bacaan khusyu dan bacaan  yang tartil sehingga dapat diresapi dan dipetik maknanya,” ujarnya.

Kiai Didin menegaskan, shalat Tarawih tidak menghilangkan shalat Tahajud atau qiamulail. “Shalat Tarawih khusus hanya ada pada bulan Ramadhan, sedangkan shalat Tahajud ada setiap malam, sepanjang tahun. Hanya yang perlu diperhatikan, kalau selesai Tarawih langsung shalat witir maka selesai qiamulail tidak perlu lagi witir. Kalau shalat Tarawih tidak ditutup dengan witir maka selesai shalat Tahajud, tutuplah dengan witir. Nabi menegaskan, tidak ada dua witir dalam satu malam,” paparnya.

Anjuran ketiga, kata Kiai Didin, manfaatkanlah Ramadhan untuk memperbanyak infak dan sedekah, bukan zakat. Sebab, zakat yang terkait dengan Ramadhan hanyalah zakat fitrah. Zakat itu harus diberikan pada bulan Ramadhan, khususnya menjelang akhir Ramadhan sampai menjelang shalat Idul Fitri.

“Jutru yang terpenting adalah kita memperbanyak infak dan sedekah selama bulan Ramadhan. Inilah momentum yang luar biasa bagi kita untuk melatih diri kita agar selalu gemar berinfak dan bersedekah dan menjadikannya sebagai gaya hidup kita sehari-hari selepas Ramadhan,” papar Kiai Didin.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA