Selasa, 16 Ramadhan 1440 / 21 Mei 2019

Selasa, 16 Ramadhan 1440 / 21 Mei 2019

Pahami Makna Hijrah dan Jenisnya

Kamis 26 Apr 2018 05:15 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Agung Sasongko

Hijrah

Hijrah

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Secara garis besar, hijrah dibedakan menjadi dua macam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti 'meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat'. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syariat Islam.

Ustazah Yennie Kurniawati dalam Pengajian April yang diadakan Hijabers Community bekerja sama dengan Dompet Dhuafa belum lama ini menjelaskan, kisah hijrah yang dicatat dalam sejarah Islam adalah perjalanan Isra Mi'raj.

Perintah berhijrah juga tertulis dalam perintah Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS al-Baqarah: 218).

Menurut Ustazah Yennie, terdapat beberapa hikmah dari Isra Mi'raj yang merupakan perjalanan ke Baitul Maqdis, yang menjadi tempat turunnya wahyu para nabi.

Rasulullah diperjalankan dalam bentuk roh dan jasadnya dalam keadaan sadar dan bertemu dengan para nabi terdahulu.

Dalam perjalanan tersebut, Nabi juga mendapatkan mandat dari Allah SWT untuk menyampaikan kewajiban shalat lima waktu kepada umat Islam.

Berhijrah, kata Ustazah Yenni, memang tidak selamanya bermakna berpindah dari satu tempat ke tempat yang baru. Namun, hijrah memiliki banyak makna.

Berhijrah bisa bermakna bertekad untuk mengubah diri demi meraih rahmat dan keridhaan Allah SWT. Selain itu, hijrah juga diartikan sebagai salah satu prinsip hidup. Seseorang dapat dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu yang ditujunya (tujuan).

"Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah.

Misalnya dengan meninggalkan segala hal yang buruk, seperti pikiran negatif dan maksiat, dan menuju keadaan yang lebih baik, positif, untuk menegakkan ajaran Islam," kata Ustazah Yennie kepada jamaah kajian bertema "A Hijrah Story from Nnight Journey" di Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut dia, seorang yang telah bertekad berhijrah, dalam artian mengubah hidupnya menjadi lebih baik, akan memperoleh derajat yang lebih tinggi di mata Allah.

Semisal yang dijanjikan-Nya dalam Alquran, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang- orang yang mendapat kemenangan." (QS at-Taubah: 20)

Secara garis besar, hijrah dibedakan menjadi dua macam, yaitu hijrah makaniyah (berpindah dari satu tempat ke tempat lain) dan hijrah maknawiyah (mengubah diri, dari yang buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridhaan Allah SWT).

Contoh hijrah makaniyah adalah peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah serta hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

"Berkatalah Ibrahim, `sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku, sesungguhnya Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.'" (QS al-Ankabut: 26).

"Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, `ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.'" (QS al-Qashash: 21).

Hijrah maknawiyah dibedakan menjadi empat, yaitu hijrah i'tiqadiyah (hijrah keyakinan), ketika seorang Muslim mencoba meningkatkan keimanannya agar terhindar dari kemusyrikan.

Kedua, hijrah fikriyah (hijrah pemikiran), ketika seseorang memutuskan kembali mengkaji pemikiran Islam yang berdasar pada sabda Rasulullah dan firman Allah demi menghindari pemikiran yang sesat.

Ketiga, hijrah syu'uriyyah adalah berubahnya seseorang yang dapat dilihat dari penampilannya, seperti gaya berbusana dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah ini biasa dilakukan untuk menghindari budaya yang jauh dari nilai Islam, seperti cara berpakaian, hiasan wajah, rumah, dan lainnya.

 

Terakhir adalah hijrah sulukiyyah (hijrah tingkah laku atau kepribadian). Hijrah ini digambarkan dengan tekad untuk mengubah kebiasaan dan tingkah laku buruk menjadi lebih baik. "Seperti orang yang sebelumnya selalu berbuat buruk, seperti mencuri, membunuh, atau lainnya, bertekad berubah kepribadiannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia," kata Ustazah Yenni.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA