Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Kondisi Zaman Sebelum Rasulullah

Kamis 12 April 2018 14:00 WIB

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Agung Sasongko

Rasulullah

Rasulullah

Ketika itu ada beberapa kerajaan besar yang berpengaruh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Said Ramadhan al-Buthi dalam Fiqhus Sirah memulai penulisan sirah dengan membahas kondisi dunia pada zaman sebelum Rasulullah.Ketika itu ada beberapa kerajaan besar yang berpengaruh. Pertama adalah Persia.

Agama Zoroaster (az-Zar dasyti yah) yang dianut masyarakat kerajaan ini tidak mengajarkan akhlak mulia.Bayangkan, falsafah mereka yang ketika itu dijadikan rujukan menganjurkan laki- laki menikahi ibunya atau anak perempuannya, atau saudara perempuan (tafdhil zuwaj rajul bi ummihi aw ibnatihi aw ukhtihi).

Belum lagi kebijakan kerajaan yang sangat mengekang.Rakyat dibebani dengan pajak yang terlalu besar untuk menopang kebiasaan hedonistik bangsawan.Raja tampil semakin kaya.

Sementara rakyat jelata terus- menerus tertindas.

Di sisi lain, peradaban Yunani tampil dengan berbagai mitologi tak masuk akal, seperti dewa-dewa di Olimpus yang wajib diagungkan.Masyarakat tidak memiliki iman dan agama yang jelas untuk dianut.

Lainnya adalah Romawi.Kerajaan ini penuh dengan ambisi untuk menjajah, menindas, demi meluaskan kekuasaan.Maksud di belakangnya adalah menyebarkan pengaruh keagamaan yang mereka anggap benar.

Pada saat itu, di jazirah Arab yang tandus dan gersang, Islam didak wahkan oleh Rasulullah.

Ajaran ini menjadi antitesis dari semua kerajaan tersebut.Di saat Persia mewajibkan menyembah api dan menganjurkan menikahi ibu, anak perempuan, dan saudara perempuan, Islam hadir menyerukan manusia menyembah Allah.Ajaran tauhid yang lebih masuk akal juga menjadi solusi atas konsep dewa- dewi Yunani.Islam mewajibkan penganutnya menikahi orang lain yang bukan keluarga inti.

Di saat banyak kerajaan memeras rakyatnya dengan pajak, Islam mengajarkan umatnya untuk berzakat dengan batasan tertentu, yang tidak mengekang, dan jelas sasarannya.Pajak ketika itu dimanfaatkan untuk menopang kerajaan.

Sementara zakat di alokasikan untuk para mustahiq, di antaranya adalah para fakir miskin, yang ketika itu kerap diabaikan, dan tidak mendapatkan perhatian kerajaan.

Islam hadir sebagai kekuatan pembangkit kesejahteraan yang dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia.Rasulullah mendakwahkan Islam dengan cara yang santun, meski kerap mendapatkan caci-maki.

Kebijaksanaannya telah membuat umat mampu menghimpun kekuatan sosial, sehingga terbentuklah sumber daya untuk menggiatkan syiar Islam.

Di saat banyak kerajaan memeras rakyatnya dengan pajak, Islam mengajarkan umatnya untuk berzakat dengan batasan tertentu, yang tidak mengekang, dan jelas sasarannya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA