Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

An Nawawi Tanara Inisiasi Pembangunan Ekonomi Pesantren

Selasa 13 Maret 2018 19:07 WIB

Red: Ani Nursalikah

Santri pondok pesantren (Ilustrasi)

Santri pondok pesantren (Ilustrasi)

Foto: Republika/ Wihdan Hidayat
Gerakan ini menyasar pesantren, pengelola masjid, majelis ta'lim, kampus dan ormas.

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Pondok Pesantren An Nawawi Tanara Kabupaten Serang yang dipimpin KH Ma'ruf Amin menginisiasi gerakan pembangunan ekonomi dari pesantren, melalui Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) dan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Umat (LPEU).

"Gerakan ini tidak ujug-ujug (tiba-tiba) ada. Ini sudah digelorakan Kiai Ma'ruf sejak lama. Secara konseptual dan kodifikasi hukum, kiai memulainya sejak 90-an," kata Ketua Panitia Peluncuran Pemberdayaan Ekonomi Umat, Uday Abdurrahman, dalam siaran pers di Serang, Selasa (13/3).

Peluncuran gerakan pembangunan ekonomi tersebut direncanakan akan dipimpin langsung oleh Pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, KH Ma'ruf Amin dan yang disaksikan Presiden RI Joko Widodo di Ponpes An Nawawi Tanara, Kabupaten Serang, Rabu (14/3).

Menurut Uday, saat itu KH Ma'ruf Amin mendorong lahirnya perbankan dan lembaga keuangan syariah. Kemudian, sejak didaulat menjadi Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin menggelar halaqah keliling daerah se Indonesia. Para kiai Syuriah NU dari tingkat wilayah, cabang hingga ranting NU diajak berdialog untuk memetakan persoalan keumatan, sekaligus mendorong para kiai untuk bangkit menata kembali perekonomian umat dari berbagai sektor.

Upaya pemberdayaan ekonomi umat tersebut, kata Uday, tak bisa dilakukan sendirian atau hanya sekelompok tokoh. Karena itu, Kiai Ma¿ruf mendorong pemerintah, tokoh agama dan para pengusaha untuk bersinergi mengintegrasikan komitmen dalam pemberdayaan ekonomi umat.

"Kiai menyebutnya sebagai arus baru ekonomi Indonesia," katanya.

Gerakan Kiai Ma'ruf Amin, yang kini menjabat Rais Aam PBNU sekaligus Ketua Umum MUI itu, kata Uday, bukan tanpa rintangan. Banyak pihak yang awalnya meragukan.

"Beliau selalu bilang, yang penting kita bergerak saja. Nanti kalau sudah terlihat hasilnya, yang lain pun akan ikut bergerak. Sebab di pesantren, kita diajarkan alharakah, barakah. Pergerakan akan berbuah berkah," katanya.

Saat ini, meski belum genap setahun dibentuk, KMSN dan LPE yang baru beranggotakan 25 pesantren di seluruh Indonesia itu, telah bergerak di sejumlah sektor bisnis, yakni sektor jasa keuangan, ritel, budidaya pertanian, perikanan dan peternakan serta sektor jasa.

"Jadi pesantren anggota KMSN ini akan jadi percontohan gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Kita sudah bekerja sama dengan Leumart di sektor ritel, REI di sektor properti, C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu dan Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) untuk produk pertanian dan olahan jagung. Dengan REI kita akan membuat desa wisata dan rest area di Malang, Martha Thilaar juga kemarin mengajak kerjasama untuk pengembangan spa dan hotel syariah,"katanya.

Ketua Umum KMSN, Sholahuddin menambahkan untuk olahan jagung yang dikembangkan di tiga pesantren di Lamongan, produksinya kini telah menembus pasar Malaysia dan negara-negara di Timur Tengah.

Sholah berharap, ke depan KMSN tak hanya melibatkan 25 pesantren di Indonesia, yang kini sudah bergerak, tapi juga bisa mengajak ribuan pesantren, pengelola masjid, majelis ta'lim, kampus, hingga organisasi kemasyarakatan di tingkat desa.

Ia mengatakan pesantren yang memiliki lahan agak luas diajak mengembangkan produk pertanian sehat, perkebinan, peternakan dan perikanan akan didorong mengembangkan produknya.

"Saat ini yang sudah berjalan budidaya jagung di pesantren Nurul Huda, Kuningan, di Serang, Lamongan 3 pesantren, di Bangka Belitung dan Kalimantan Timur dengan KTNA Kaltim. Kita juga kerja sama dengan C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu di Kepulauan Seribu," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES