Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Tiga Fokus Sasaran Ikadi di Era Globalisasi

Selasa 13 March 2018 06:17 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Indira Rezkisari

Ahmad Satori Ismail, Ketua Ikatan Dai Indonesia

Ahmad Satori Ismail, Ketua Ikatan Dai Indonesia

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Dai diharapkan bisa memaksimalkan media sosial untuk berdakwah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Pusat (PP) Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) telah melaksanakan Silaturahmi Nasional Ikadi di Kota Padang, Sumatra Barat pekan lalu. Ada tiga hal yang menjadi sasaran dan fokus Ikadi di era globalisasi saat ini.

Ketua Umum PP Ikadi, Prof KH Ahmad Satori Ismail mengatakan, sasaran Silaturahmi Nasional Ikadi ada tiga. Pertama, menguatkan strategi dakwah Ikadi di era globalisasi. Kedua, memaksimalkan media sosial untuk dakwah dan menyampaikan Islam rahmatan lil alamin. "Ketiga, menggunakan jaringan Ikadi di 32 provinsi untuk membangkitkan ekonomi umat," kata Prof KH Ahmad Satori, Senin (12/3).

Ia menerangkan, Ikadi melihat umat Islam di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Tapi kekuatannya tidak terlalu kuat. Maka bagaimana membuat jumlah umat yang banyak menjadi kekuatan yang besar.

Jaringan Ikadi sudah ada di 32 provinsi dan 350 kabupaten dan kota. Mudah-mudahan jaringan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menguatkan strategi dakwah Ikadi di era globalisasi.

"Mudah-mudahan jaringan ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membangkitkan dakwah di masjid-masjid, lingkungan, perkantoran dan lain sebagainya," ujarnya.

Prof KH Ahmad Satori menegaskan, tujuan menguatkan strategi dakwah juga untuk menepis tuduhan Islam adalah teroris. Tuduhan tersebut memang dapat ditepis. Sejak dulu Islam ada di Indonesia, namun tidak pernah ada tuduhan semacam itu. Tuduhan Islam adalah teroris baru marak sekarang, kesannya Islam berubah. "Padahal hakikatnya ajaran Islam sangat luar biasa indahnya," ujarnya.

Mengenai memaksimalkan media sosial untuk dakwah dan menyampaikan Islam rahmatan lil alamin. Ikadi menerangkan, misalkan ada seorang dai menggunakan Twitter, Line dan Facebook untuk berdakwah. Dai tersebut mengisi pengajian di enam masjid dalam sepekan.

Kalau orang yang ikut pengajian di enam masjid tersebut follow akun media sosial dai, maka dakwah dai tersebut bisa dilihat masyarakat secara luas melalui media sosial. Kalau hal seperti ini disinergikan dengan ustaz lain se-Indonesia untuk menyampaikan Islamrahmatan lil alamin, maka dampaknya akan sangat luar biasa.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA