Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Sabar Menyikapi Sakit

Jumat 02 Mar 2018 15:25 WIB

Red: Agung Sasongko

Pasien terbaring di bangsal Rumah Sakit. Ilustrasi

Pasien terbaring di bangsal Rumah Sakit. Ilustrasi

Foto: Huffingtonpost
Sakit yang menimpa manusia dapat dari berbagai penyakit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sikap sabar dalam menghadapi penyakit pun penting. Allah menyayangi hamba-Nya yang ditimpa penderitaan. Berprasangka bahwa sakit yang ditimpakan padanya adalah cara untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

Orang sakit jangan sampai berputus asa. Sikap putus asa bisa membuat orang jatuh dalam pengobatan syirik, bahkan bunuh diri. Jika pun sakit yang didapatkan bahkan hingga menyebabkan meninggal, hal itu merupakan ketetapan Allah SWT, maka sebaiknya katakan Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.

Mantan Ketua Umum PP Persis Maman Abdurrahman mengatakan sakit yang menimpa manusia dapat dari berbagai sumber. Namun, pada dasarnya penyakit yang datang akibat dari perilaku manusia yang tidak menjaga tubuhnya dengan baik.

Ketika seseorang tertimpa penyakit, harus mencari pengobatan yang halal sesuai sunnah. “Berobatlah kalian, setiap penyakit selalu ada obatnya,” ujarnya.

Berobat dapat didapatkan dari bahan-bahan herbal maupun dari rekayasa biologis dan kimiawi. Tentu, bahan yang berasal dari kimia harus dari bahan yang halal.

Setelah mencari cara untuk mengobati penyakit, kemudian harus bertawakal pada Allah SWT dan bersabar. Berdoa ketika meminum obat, “Aku berlindung kepada Allah dari keagungan dan kemuliaan dan kekuasaannya, dari kejelekan dari apa yang aku dapatkan dan temukan.”

Karena, dalam obat itu mungkin ada yang membahayakan sehingga perlu berlindung kepada Allah SWT. Orang yang berobat ke pengobatan alternatif dan mengandung syirik harus dijauhi.

Doa yang dipanjatkan untuk orang yang sakit penting agar dapat lekas sembuh. “Tidak masalah jika pengobatan dengan berdoa pada Allah SWT asalkan tidak dikomersialisasikan,” Maman menerangkan.

Doa yang didampingi dengan sabar membawa ketenangan hati. Ketenangan hati merupakan bagian dari akselarasi kesembuhan karena melapangkan dada. “Kalau hanya mengaduh dan marah karena sakit, justru akan bertambah sakit,” ujarnya. e

Sumber : Dialog Jumat Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA