Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Yenny Wahid Kutuk Tindakan Kekerasan kepada Tokoh Agama

Ahad 11 February 2018 23:27 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Karta Raharja Ucu

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid Menjadi Pembicara dalam FGD Pra Munas Alim Ulama NU

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid Menjadi Pembicara dalam FGD Pra Munas Alim Ulama NU "Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia, di Hotel Harris Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11).

Foto: Republika/Rahmat Fajar
Yenny mengutuk intimidasi atas dasar apapun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid mengutuk setiap tindakan kekerasan dan intimidasi kepada siapa pun dan atas dasar apapun. Pernyataan ini ia ungkapkan menyikap sejumlah penyerangan yang terjadi pada tokoh agama.

Pada Ahad (11/2) pagi, seorang lelaki menyerang beberapa jemaat dan seorang pendeta di Gereja Santa Lidwina di Sleman, Yogyakarta, saat mereka tengah melaksanakan misa. Sebelumnya, serangan terjadi pada seorang biksu di Tangerang bernama Mulyanto Nurhalim.

Pada Januari lalu, penganiayaan dilakukan oleh pelaku yang diduga sakit jiwa terhadap pengasuh Pesantren Al Hidayah, KH Umar Basri, di Cicalengka, Bandung. Tak lama berselang, penyerangan terjadi pada Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis), Ustaz Prawoto, yang kemudian meninggal usai dianiaya oleh pelaku diduga sakit jiwa.

Menanggapi sejumlah peristiwa itu, Yenny mengatakan kekerasan semacam itu harus dinyatakan bukanlah kondisi yang mewakili wajah masyarakat umum Indonesia. Karena itu, ia mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk melakukan kajian sekaligus penerapan langkah sistem deteksi dini (early warning system). Hal itu agar kasus-kasus serupa berkurang dan dapat dilakukan langkah-langkah antisipatif.

"Langkah ini dapat dilakukan melalui deteksi dini kasus-kasus intoleransi, termasuk ujaran kebencian, yang kemungkinan bakal meningkat jelang dan selama masa-masa pemilihan kepala daerah serentak di Indonesia," kata Yenny, dalam keterangan rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (11/2).

Selanjutnya, putri dari Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid ini mendukung Polri melakukan proses hukum terhadap para pelaku penyerangan dan penganiayaan kepada para tokoh agama tersebut. Yenny juga mengapresiasi kesigapan ormas-ormas keagamaan yang kompak menyerukan kepada masing-masing umatnya untuk tidak terprovokasi dan justru mendorong agar proses hukum dikedepankan.

"Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia makin dewasa dan matang dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan," lanjutnya.

Selain itu, Yenny mendorong agar Kemenkominfo dan perusahaan-perusahaan media sosial seperti Facebook, Youtube, dan Twitter, memantau kasus-kasus hoaks dan berita palsu atas tiga kasus tersebut yang sengaja ditujukan untuk dapat memanaskan situasi di masyarakat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES