Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Krisis Akhlak Benih Kehancuran

Senin 29 Jan 2018 09:10 WIB

Red: Agung Sasongko

Akhlak mulia (ilustrasi).

Akhlak mulia (ilustrasi).

Foto: Blogspot.com
Hilangnya budaya berempati ini menandakan krisis akhlak yang terjadi saat ini.

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Erdy Nasrul, Wartawan Republika 

 

Gempa mengguncang Banten dengan kekuatan 6,1 skala richter pada Selasa (23/1). Getarannya terasa di sebagian wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Masyarakat yang terdampak gempa sedih, karena sebagian dari mereka mengalami kerugian materil.

Yang menyakitkan hati adalah kesedihan mereka tidak ditenangkan dengan bantuan atau setidaknya dukungan psikologis. Sebagian orang mengolok-olok bencana itu dengan berita dusta bahwa akan ada gempa susulan beberapa jam kemudian. Bahkan ada yang mengejek gempa dengan membuat gambar patung Pancoran bergeser seakan terbang.

Bukan pertama kali akhlak tercela semacam itu terjadi. Saya masih ingat saat bencana kabut asap terjadi di sebagian wilayah, seperti Sumatra dan Kalimantan pada 2015. Ketika itu ada yang menyalahkan warga di sana yang kerap membakar lahan. Ada juga yang mengejek bahwa kabut asap terjadi karena akan ada pertarungan monster. Imajinasi liar semacam itu sungguh memperkeruh suasana duka yang sedang menyelimuti puluhan juta saudara setanah air yang terdampak bencana.

Dua contoh di atas menggambarkan betapa rendahnya akhlak sebagian orang, sehingga ke- sulitan untuk setidaknya menunjukkan keprihatinan. Atau kalau tidak bisa berkata prihatin, letakkan tangan kanan di dada sebelah kiri sambil menundukkan kepala untuk menunjukkan diri ikut merasakan penderitaan mereka yang berkabung.

Bangsa ini dikenal sebagai bagian dari `Timur' yang khas dengan keanekaragaman budaya dan spiritualitas yang kuat: saling menghormati, tak segan membantu sesama, bertegur sapa, dan berjuta tradisi terpuji lainnya. Namun sangat memprihatinkan, berjuta-juta budaya mulia itu tak terlihat di saat saudara sebangsa menjadi korban bencana. tragis!

Hilangnya budaya berempati ini menandakan krisis akhlak yang terjadi saat ini. Egoisme diagung-agungkan. Rasa percaya diri diperkuat dengan menganggap kehidupan yang mereka jalani saat ini adalah segalanya, sehingga tak perlu belajar dari para pendahulu yang mengajarkan akhlak mulia dan berbagai budaya ketimuran.

Rasa rendah hati semakin berkurang, bahkan hampir punah, tergerus dengan pola kehidupan serba materi. Dunia pekerjaan hanya di fokuskan untuk meraih keuntungan, tanpa memedulikan kehidupan masyarakat dan alam sekitar.

Pemikiran menjadi serba dikotomis. Selalu memisah-misahkan berbagai aspek kehidupan.Agama hanya diletakkan di bagian paling dalam, sehingga tak perlu tampil, seperti halnya letak mushala di berbagai pusat perbelanjaan. Politik dielu-elukan tampil sebagai dewa seakan mampu menghadirkan kekuasaan yang menyetabilkan, bahkan menyejahterakan kehidupan, tapi kenyataannya, hanya berupa pencitraan, kebusukan, kebohongan, penipuan, kemunafikan, dan berbagai perilaku tercela.

Situasi ini diperparah dengan kondisi pen- didikan yang hanya fokus penambahan pengetahuan.

Sekolah membebani siswa dengan berbagai kompetensi pengetahuan yang belum tentu berdampak pada akhlak mulia. Kejenuhan datang, sehingga mereka mencari pelampiasan biadab: tawuran, geng motor, penyalahgunaan narkoba, miras, perzinahan, dan banyak lagi.

Pendidikan tak lagi berarti memberikan ragam pengaruh baik untuk bekal masa depan (Mahmud Yunus)atau pun penanaman adab melalui ilmu yang tertanam di hati sehingga membentuk perangai mulia (Syed Naquib al-Attas). Pendidikan menjadi hampa, sebatas menambah wawasan, membuat anak kaya pengetahuan, tapi miskin perkembangan kepribadian.

Lingkungan tempat generasi bangsa tumbuh mencerminkan individualitas sehingga tak adalagi kebersamaan, persaudaraan, bahkan kekeluargaan. Semua itu seakan pergi meninggalkan kita yang dikenal sebagai bagian dari budaya timur, sehingga terjebak pada krisis akhlak yang memprihatinkan.

Mengolok-olok bencana alam menggambarkan keegoisan dan merasa unggul, yang merupakan embrio berbagai sifat tercela di atas. Si pembuat mememungkin saja tidak mengalami gempa dan merasa hidup di zona aman bencana. Dia mengekspresikan kebahagiaannya dengan karya-karya ceria di atas penderitaan orang lain.

Bisa jadi inilah kehidupan masyarakat saat ini. Yang kaya merasa sudah nyaman dengan ke- hidupannya, sehingga enggan meneteskan air mata ketika melihat manusia gerobak menggendong anak-anaknya sambil memungut barang bekas untuk didaur ulang. Pemangku kebijakan tak perlu memikirkan rakyatnya yang baru panen beras, sehingga kebijakan impor beras sah-sah saja dengan berbagai pembenaran yang menjengkelkan.

Sikap seperti itu tak jauh berbeda dengan penjajah biadab Israel yang tega membantai jutaan warga Palestina, karena keegoisan mereka:merasa unggul dibandingkan bangsa lain, dan mengklaim lahan yang kini diduduki adalah tanah warisan leluhur mereka.

Membangun akhlak 

Membangun akhlak bangsa ini tak bisa dengan semangat bekerja. Bukan pula dengan sikap ngotot, merasa benar sendiri, sehingga membuat hati kecil tertutup.Mulailah dari kerendahan hati (tawadhu), merasa sejajar dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Sebuah petuah bijak mengatakan, janganlah Anda menatap seseorang dengan pandangan merendahkan dan meremehkan, meskipun dia seorang musyrik. Siapa tahu Anda tak pernah meraih ma'rifat, sementara orang itu justru dianugerahi ma'rifat oleh Allah (Syekh Nawawi al- Bantani).

Rendah hati bukan milik agama semata yang dijabarkan panjang lebar dalam tasawuf, tapi juga manajemen organisasi terkini, seperti Un- bossyang ditulis oleh Lars Kolind dan Jacob Botler (2011).Sudah bukan zamannya merasa hebat sendiri, membuat takut orang lain, membangun persaingan sehingga merasa lebih unggul, dan yang paling zalim adalah mengurangi atau bahkan memotong hak orang lain untuk ambisi egois: merasa membuat inovasi konstruktif.

Yang harus dibangun saat ini adalah kekeluargaan, saling merangkul, berdiri sejajar tanpa memikirkan jabatan, harta, keturunan, dan berbagai latar belakang yang membuat kehidupan manusia terpisah-pisah. Semua itu harus mulai ditanamkan sejak dini, sehingga anak ketika beranjak dewasa menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk sosial yang tak bisa hidup dengan mengolok-olok, menyingkirkan, dan bahkan membinasakan orang lain.

Manajemen kesetaraan akan membangun kebersamaan dengan kerja cerdas menghasilkan. Targetnya bukan sekadar produktivitas, tapi hal-hal abstrak, idealisme yang jauh dari materialistis: perubahan kehidupan, menginspirasi, mengapresiasi, mencerdaskan masyarakat, dan banyak lagi. Tujuan mulia itu adalah yang dicari kebanyakan orang, sehingga mereka tercer- ahkan, menyadarkan mereka harus berbuat apa untuk menggapai hal besar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA