Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Belajar Dagang Ala Rasulullah, Ini Kata Ketua MPR...

Jumat 15 December 2017 15:16 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agus Yulianto

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Zulkifli Hasan menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar dan Silaturahmi Kebangsaan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (15/12).

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Zulkifli Hasan menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar dan Silaturahmi Kebangsaan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (15/12).

Foto: Republika/Arif Satrio Nugroho

REPUBLIKA.CO.ID, KUTAI KERTANEGARA -- Ketua MPR Zulkifli Hasan mengimbau umat Islam agar belajar berdagang seperti Nabi Muhammad Rasulullah. Hal ini disampaikan Zulkifli di hadapan jamaah Masjid Jami Nurul Huda, Koala Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jumat, (15/12).

Harapan Zulkifli ini disampaikan agar umat Islam tidak hanya besar dalam segi jumlah, namun bisa menjadi kekuatan ekonomi dan politik. "Ummat Islam yang besar harus bisa dikonversikan menjadi kekuatan ekonomi dan politik," ujar Ketua MPR.

Menurut Zulkifli sekarang dalam era persaingan bebas maka ummat Islam harus siap menghadapi kondisi itu. Ditekankan agar para orangtua menyekolahkan anak-anaknya agar mereka menguasai ilmu.Bila ummat Islam mandiri maka kedaulatan akan bisa digunakan dengan tepat.

Diakui, selama ini, kedaulatan yang ada sering ditukar dengan sembako. Dalam memilih pemimpin diharap masyarakat bisa melihat asal usul dan jejak rekamnya. "Itu yang akan menentukan masa depan kita," paparnya.

Memilih pemimpin karena utang budi setelah diberi sembako atau uang, menurut Zulkifli, itu tidak akan membawa berkah. "Memilih pemimpin karena sembako akan kehilangan berkahnya," katanya.

Zulkifli  meminta,agar ummat Islam di Samboja ikut meluruskan paham yang salah. Diungkapkan ada anggapan menjalankan kehidupan beragama secara benar dan sungguh-sungguh disebut sebagai tindakan intoleran.

"Padahal, Pancasila memberi kebebasan bangsa ini dalam menjalankan kehidupan beragama. Paham yang salah seperti itu yang perlu diluruskan," ucapnya.

Ditegaskan agar warga Samboja bersatu. Dalam persatuan itu ada perbedaan. "Yang beda biar berbeda yang penting saling menghormati," tegasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA