Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Belajar Kitab

Kaidah Penting Berijtihad

Kamis 30 Nov 2017 18:15 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Kitab Kuning

Ilustrasi Kitab Kuning

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kompleksitas persoalan yang berkembang di tengah-tengah umat membutuhkan jawaban yang logis dan syar'i. Masalahnya, ternyata tidak semua kasus baru yang muncul sudah ditegaskan dalam teks secara tersurat, baik nas Alquran maupun sunah.

Pada saat yang sama, kejadian dan peristiwa terus bertambah seiring perjalanan waktu. Dorongan kuat untuk berijtihad dan beranalogi menggunakan kaidah-kaidah yang didasari kedua sumber hukum Islam akhirnya mutlak diperlukan.

Dalam sebuah surat resmi yang ditulis untuk hakimnya, Abu Musa al-Asyari, Umar bin Khattab menegaskan pentingnya mengomparasikan kasus-kasus yang sama atau berbeda kemudian menarik titik temu dan kesamaan illat, latar belakang kejadian, dan maksud dari hukumnya.

Upaya tersebut dilakukan guna mendapatkan benang merah dari sejumlah kejadian. Selain itu, unsur-unsur berijtihad juga perlu diperhatikan agar meminimalisasi kesalahan pada setiap fatwa yang diputuskan.

Kondisi seperti ini memicu sebagian ulama membuat kaidah-kaidah fikih yang bisa dijadikan panduan pengambilan hukum kaidah-kaidah tersebut yang berbeda dengan kaidah ushul fikih.

Perbedaan antara kedua disiplin itu, menurut Syihabuddin Al-Qurafi dalam kitabnya Al furuq, terletak pada objek bahasan. Ushul fikih membahas dalil-dalil berikut aplikasinya untuk merumuskan putusan hukum tertentu. Sedangkan, kaidah fikih diambil dari kasus yang sering terjadi, terutama yang berkaitan dengan perbuatan mukalaf, sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam ushul fikih.

Di kalangan Mazhab Syafi'i, beberapa deretan nama ulama memberikan sumbangsih berharga. Misalnya, Izzudin bin as-Salam mengarang Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam dan Ibn Al-Wakil as-Syafi'i dengan kitabnya al-Asybah wa an-Nazhair.

Kontribusi berarti disumbangkan oleh Jalaluddin as-Suyuthi (911 H/1505 M). Salah satu karya monumentalnya adalah al-Asybah wa an-Nazhair Fi Qawaid wa Furu'i Fiqh asy-Syafi'iyyah. Sebelum menulis /al-Asybah, Suyuthi terinspirasi oleh kitab yang lebih dulu ia tulis tentang standar dan kaidah fikih, (Syawarid al-Fawaid fi Adh dhawabith wa al-Qawaid).

Kitab tersebut mendapat sambutan luar biasa dari kalangan murid ataupun ulama. Di satu sisi, kehadiran kitab tentang kaidah yang cukup beragam, baik dari corak maupun sistematika penulisan, mengilhami Suyuthi untuk membukukan kaidah-kaidah fikih secara lebih singkat, padat, dan sistematis.

Al-Asybah merupakan ringkasan dari kitab-kitab tentang kaidah fikih yang pernah ditulis sebelumnya. As-Suyuthi mengambil kaidah-kaidah terpenting yang terdapat di beberapa kitab, di antaranya al-Majmu al-Madzhab Fi Qawaid al-Madzhab karangan Abu Said al-Alai, al-Asybah Wa an-Nazhair yang ditulis Tajuddin as-Subuki, dan kitab al-Mantsur Fi Tartib al-Wawaid al-Fiqhiyyah karya az-Zarkasyi.

Kendati kitab yang dikarangnya bukan entri baru di cabang ilmu ini, terutama yang bercorak Mazhab Syafi'i, Suyuthi unggul dalam beberapa hal. Selain al-Asybah lebih ringkas, paparan yang disampaikan dilengkapi dengan analisis kritis dan komparasi antara pendapat yang merupakan ciri khas dan kepiawaian Suyuthi.

Terkait referensi kitab fikih, Suyuthi menggunakan kitab fikih Mazhab Syafi'i terkemuka. Kitab yang sering dikutipnya adalah Raudhat a-Thalibin dan al-Manhaj karangan an-Nawawi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA