Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Indahnya Tawakal

Senin 31 Jul 2017 11:01 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Makmum Nawawi

Imam Malik bin Dinar berkata, "Suatu malam, ketika saya tidur, tiba-tiba ada yang datang kepada saya dalam mimpi, seraya berkata, 'Kini, bangunlah, dan pergilah ke Masjid Bashrah, di sana bakal kau temui seorang pemuda yang tengah dililit kelaparan yang sangat, dan berilah ia makanan'."

"Saya pun bangun dan mengambil makanan ringan, lalu berangkat ke masjid, dan kulihat di sana seorang pemuda yang tengah berzikir kepada Allah. Lantas, makanan dan minuman itu pun kusodorkan kepadanya, seraya aku berujar, 'Kalau engkau membutuhkan aku, aku tinggal di tempat ini'."

Namun, pemuda itu segera menukas, "Bagaimana mungkin aku membutuhkan engkau, lalu melupakan Zat Yang mengutusmu datang menemuiku di tempat ini!" Kemudian, pemuda itu pun membacakan ayat: "(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku." ( QS asy- Syu'ara: 78-79).

Narasi ini mengajarkan bahwa menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, ternyata menjadikan hidup ini begitu ringan sekali, sekalipun tumpukan masalah dan beban hidup yang dihadapi menggunung.

Beragam problem hidup jelas bukan hanya monopoli kaum modern, tetapi orang-orang dulu kala pun ditimpa hal yang sama, dan mereka piawai menyikapinya dengan tawakal, setelah berikhtiar dan beramal maksimal.

Selain menyajikan panorama kehidupan yang indah, tawakal juga membuahkan banyak hal. Pertama, ia merupakan penegasan dari keimanan yang benar. Banyak ayat Alquran yang memerintahkan sang Muslim agar bertawakal kepada Allah.

Kedua, menghadirkan ketenangan dan kedamaian dalam relung jiwa seseorang sehingga menjalani hidup ini dengan ringan, santai, dan tanpa beban. Sebab, ia siap menerima apa pun yang Allah persembahkan untuk dirinya, baik yang menyenangkannya maupun yang menyebalkannya.

Tangga spiritual inilah yang dicapai oleh Umar bin Khattab, seperti tersembul dari ucapannya: "Ketika pagi, aku tak peduli berada dalam kondisi apa pun, entah dalam keadaan yang kusenangi atau yang tak kusukai, karena aku tak tahu letak kebaikan, apakah dalam kondisi yang kusenangi atau yang kubenci."

Ketiga, Allah Ta'ala mewujudkan maksud, keinginan, dan segenap kebutuhan hamba-Nya sebagai balasan dari totalitas tawakalnya kepada Dia. Sabda Nabi SAW, "Jika kamu sekalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kamu sekalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; pergi pagi dalam keadaan lapar, dan sorenya pulang dalam keadaan perut kenyang." (HR Tirmidzi).

Keempat, membuahkan manfaat, baik menyangkut dunia maupun akhirat, juga menolak kemudharatan. Kelima, menjadikan hati kuat, berani menerjang musuh dan orang-orang zalim, serta sama sekali tak takut pada manusia. Keenam, sabar dalam menghadapi kesulitan dan musibah, serta merasa nyaman dengan takdir Allah.

Memang tak mudah menggapai tawakal ini, yang merupakan buah dari tauhid dan keimanan yang menghunjam dalam diri sang Muslim. Jahil terhadap Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, ditengarai sebagai kendala yang menghadangnya. Juga, jiwa yang terpedaya dan sombong, bersandar kepada makhluk— suatu hal yang berlawanan dengan makna tawakal yang hakiki, dan cinta terhadap dunia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA