Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Meraih Ridha dan Cinta Allah

Sabtu 29 Apr 2017 16:30 WIB

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Secara sederhana, kebaikan dimaknai sebagai segala sesuatu yang diridhai dan dicintai Allah SWT. Sementara, keburukan diartikan sebagai semua perkara yang dibenci atau bahkan dilaknat Allah SWT. Dalam prinsip akidah Islam, semua amal yang dilakukan seorang Muslim sejatinya hanya ditujukan untuk meraih ridha dan cinta Ilahi semata. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita mendapatkan ridha dan cinta Allah tersebut?

Topik itulah yang dibahas oleh Ustaz Jefry Bajrey dalam kajian tauhid Masjid Nur 'ala Nur di Jl Matraman Dalam III Pegangsaan, Jakarta Pusat, Kamis (20/4) lalu. Sambil mengutip Kitab Tauhid Al-Ushul ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) karya Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab at-Tamimi, Jefry mengatakan, salah satu cara meraih ridha dan cinta Allah SWT adalah dengan mengikuti semua kebaikan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. "Karena, pada dasarnya apa pun yang diridhai dan dicintai oleh Rasulullah SAW juga diridhai dan dicintai oleh Allah SWT," ujar dia.

Dia menuturkan, ridha dan cinta Allah SWT tidak bisa didapatkan seseorang hanya melalui perasaan ataupun proses perenungan semata. Ridha dan cinta Allah SWT mesti diperoleh dengan beribadah kepada-Nya secara ikhlas. "Tanpa keikhlasan, segala ibadah dan amal kebaikan kita akan menjadi sia-sia belaka," ucapnya.

Menjalankan ibadah dengan ikhlas, Jefry menjelaskan, adalah wujud dari tauhid yang sesungguhnya. Sebab, esensi dari keikhlasan itu sendiri adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dalam beribadah. Ketika seseorang masih mengharapkan sesuatu selain Allah SWT dalam ibadahnya, dia telah jatuh ke dalam kesyirikan.

"Di saat kita mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang memiliki kuasa mengurusi segala perkara di alam semesta ini, kita seharusnya juga mengakui Dia sebagai satu-satunya Dzat yang berhak mendapatkan peribadatan atau ubudiyah dari manusia," ujarnya.

Ketika menjalankan ibadah, Jefry mengatakan, setiap Muslim tidak sekadar dituntut bersikap ikhlas, tetapi juga wajib mengikuti semua tuntunan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Jika seseorang mencari ridha Allah SWT melalui jalan selain dari yang dicontohkan oleh Nabi SAW, dia sesungguhnya telah mengikuti jalan yang buntu. Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang tidak menyukai sunahku, dia bukanlah bagian dari golonganku," (HR Bukhari dan Muslim).

Jefry mengungkapkan, ketaatan kepada Nabi SAW juga menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, orang yang ingin mendapatkan cinta dan ridha dari Allah SWT, harus beribadah secara ikhlas sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang menaati Rasul (Muhammad), sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan, barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka," (QS: an-Nisa [4]: 80).

Dalam Ummul Quran, terdapat satu doa yang berbunyi "Tunjukanlah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka," (QS: al-Fatihah [1]: 6-7). Pertanyaannya, kata Jefry, siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah SWT seperti yang disebutkan dalam Surah Alfatihah tersebut?

Jawabannya ada di dalam QS an-Nisa ayat 69.  Di situ dinyatakan, "Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."

Menurut Jefry, ayat tersebut semakin mempertegas bahwa ketaatan kepada Rasulullah menjadi salah satu syarat mutlak dalam meraih nikmat dari Allah SWT. "Dengan mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Nabi SAW, insya Allah kita akan mendapatkan cinta dan ridha dari-Nya."

Kajian tauhid bersama Ustaz Jefry Bajrey rutin digelar setiap Kamis bakda Maghrib di Masjid Nur 'ala Nur Pegangsaan. Sebelum ceramah dimulai, kegiatan biasanya diisi lebih dulu dengan menyantap takjil dan makan malam bersama jamaah yang menjalankan puasa sunah pada hari itu. "Tradisi menyantap takjil bersama-sama ini sudah berlangsung selama beberapa bulan di masjid ini," ujar salah satu takmir Masjid Nur 'ala Nur Pegangsaan, Andri Hartawan.

Dia mengatakan, Masjid Nur 'ala Nur memang sengaja didirikan untuk menegakkan sunah-sunah Rasulullah SAW sesuai dengan pemahaman generasi para sahabat. Selain menggelar kajian rutin setiap Kamis, masjid itu juga mengadakan kursus bahasa Arab gratis khusus untuk kalangan ikhwan (jamaah laki-laki) setiap Sabtu, Ahad, dan Senin

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA