Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Kampanye Negatif Soal Islam Buat Muslim Amerika Menderita

Rabu 21 Dec 2016 10:20 WIB

Rep: Marniati/ Red: Ilham

Muslim Amerika (ilustrasi)

Muslim Amerika (ilustrasi)

Foto: Independent

REPUBLIKA.CO.ID, AMERIKA SERIKAT -- Insiden kejahatan karena kebencian di Amerika Serikat terus meningkat, khususnya semenjak kampanye Presiden AS, Donald Trump. FBI melaporkan peningkatan 67 persen dalam kejahatan kebencian terhadap warga Muslim Amerika pada 2016. Insiden ini menargetkan individu, kelompok, atau masjid.

Zulfi Ahmed, seorang Muslim yang tinggal di Plano, Amerika Serikat ikut menyaksikan beberapa insiden kebencian. Ia mencoba untuk membantah tuduhan-tuduhan terhadap Muslim Amerika sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman.

Ia menjelaskan, ISIS dan terorisme bukanlah bagian dari Islam dan Muslim Amerika. Muslim Amerika tidak mendukung anggota ISIS maupun ideologi mereka. Tidak adil bagi Muslim Amerika jika mereka selalu dikaitkan dengan kelompok radikal.

Hal lainya yaitu berkaitan dengan hukum syariah. Muslim Amerika tidak berniat untuk menerapkan hukum syariah. Sebagai warga negara yang baik, Muslim Amerika akan mematuhi konstitusi AS dan kode sipil dengan baik.

“Jika Anda bertanya kepada orang yang membenci Muslim, mereka akan menjawab bahwa Muslim Amerika akan menerapkan hukum Syariah dan memiliki empat istri, membunuh orang kafir dan menghukum homoseksual,” ujar Zulfi Ahmed seperti dilansir dallasnews.com, Rabu (21/12).

Ia menjelaskan, warga Amerika tidak ingin menyadari bagian dari syariah juga termasuk mengadakan kegiatan amal, berbuat baik dengan tetangga, berbuat adil kepada semua, menolak rasisme dan tidak membunuh. Hal-hal yang baik tentang Islam tenggelam karena suara keras yang dominan.

Ia menambahkan, tindakan insiden kebencian banyak menargetkan perempuan Muslim yang mengenakan jilbab. Menurutnya, tidak lebih dari lima persen Muslim Amerika memakai jilbab dan kebanyakan dari mereka tidak mengenakan penutup kepala tersebut. Saat ini, jilbab bukan lagi menjadi persyaratan agama, tetapi telah berkembang sebagai bentuk identitas dan budaya selama bertahun-tahun.

Untuk itu, kata dia, jika seseorang ingin menggunakan jilbab, seharusnya membiarkan mereka melakukannya. ”Jilbab, niqab dan burqa adalah identitas, bukan kesalehan,” katanya.

Amerika merupakan negara yang berdasarkan pada keadilan dan kebebasan untuk semua. Untuk itu, Zulfi berharap semua pihak dapat menghargai perbedaan yang ada sehingga tidak menimbulkan keslahpahaman bahkan tindakan kejahatan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA