Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Ustadz Muhammad Arifin Ilham 48 Tahun

Kamis 09 Jun 2016 11:14 WIB

Red: Irwan Kelana

Ustad Muhammad Arifin Ilham

Ustad Muhammad Arifin Ilham

Foto: Dok Azzikra

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Pimpinan Majelis Azzikra Ustadz Muhammad Arifin Ilham, Rabu (8/6/2016) genap berusia 48 tahun. “Subhanallah walhamdulillah, tidak terasa kini umur Abang berkurang semakin dekat dengan  jadwal kematian. Rambut dan jenggot sudah banyak yang putih. Umur Abang dalam hitungan Hijriyyah sudah 48 tahun, 19 Robiul Awwal 1389 H,  sedangkan hitungan Masehi 47 tahun, 8 Juni 1969. Abang lahir hari Senin di Banjarmasin,” kata Ustadz Arifin Ilham dalam broad cast yang dikirimkan kepada Republika.co.id, Rabu (8/6/2019).

Arifin menambahkan,  tidak ada perayaan apapun.  “Yang ada hanya muhasabah diri, doa keluarga dan doa para sahabat tercinta. Arifin juga mohon doa semua jamaah dan sahabat agar Arifin selalu sehat wal’afiat dalam kenikmatan istiqamah,” ujar Arifin.

Pada momentum hari miladnya yang ke-48 tahun,  Ustadz Arifin Ilham menulis sebuah renungan yang diberinya judul “Oase Hatiku”.

Subhanallah aku dari tiada, sekarang ada itu juga hanya sebentar, kembali lagi tiada. Aku berasal dari ayah ibu, kakek nenek, ujung-ujungnya Bani Adam, dan Nabi Adam dari tanah, sekarang di atas tanah, semua yang kulihat dari tanah, tidak lama aku pun masuk ke dalam tanah.

Aku calon bangkai, aku akan masuk ruang sunyi senyap berbantal tanah, kepala utara, kaki selatan miring ke kiblat. Belatung, cacing, bau busuk menyerengai dalam daging tulang yang selalu kurawat saat hidup. Semoga Allah menjadikan kuburan kita Taman Surga-Nya...aamiin.

Astagfirullah,  inilah yang membuat aku terus-menerus mohon ampunan Allah, inilah yang membuatku semangat beribadah, nikmat dalam shalat, bahagia berlama-lama sujud di penghujung malam menangis rasa takut akan murka adzab-Nya, rasa rindu berjumpa dengan-Nya, ridho dan Surga-Nya.
 
Inilah energi amal salehku, dakwahku, mencari rezeki halal, silaturahim, sayang pada keluarga, sayang pada semua apalagi yang papa hatta yg tertindas. Sibukku terus memperbaiki  diri ini, bagaimana mungkin membahas aib orang lain, aib diri saja seabrek abrek.

Rasanya jasad ini tidak mampu mengimbangi gelora ruh hati yang terus berjibaku menuju-Nya. Kapan lagi?! Waktu dunia ini terlalu sebentar untuk mengumpulkan bekal hidup selama-lamanya.  Sebentar tetapi menentukan keadaan di akhirat kelak. Dunia bukan untuk main-main apalagi maksiat, umurku tidak sepanjang perjuanganku. Sementara dosaku yang banyak, ilmuku yang kurang membuat waktu hidup ini semakin sebentar.

Orang tua, anak- anakku, istri-istriku, anak-anak yatim piatuku, anak-anak santriku, keluargaku, guru-guruku, para sahabatku, jamaah zikir, juga kalian sahabatku, Palestina, Afghan, Irak, Suriah, Yaman, Mesir, Afrika Tengah, Ughur China, Khasmir, Rohingya, Patani, Moro dan seluruh umat, juga negeri ini,  masuk merenggut hati pikiranku, karena aku sayang semua, cinta semua karena Allah.

Rasanya tidak disebut doa, kecuali mereka semua bagian doaku. Aku ingin semua damai dalam naungan syariat-Nya dan hidup bahagia dalam Sunnah Nabi-Nya. Air mataku terus mengalir dalam oase ini, "Ya Allah ampunilah Arifin ini, dan semua kami, ya Allah berkahilah sisa sisa umur kami...aamiin.”

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA