Thursday, 6 Rabiul Akhir 1440 / 13 December 2018

Thursday, 6 Rabiul Akhir 1440 / 13 December 2018

Samakan Penggunaan Jilbab dengan Perbudakan, Menteri Prancis Diminta Mundur

Kamis 31 Mar 2016 08:42 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Damanhuri Zuhri

Laurence Rossignol

Laurence Rossignol

Foto: EPA/Thomas Samson

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Pernyataan Menteri Hak-Hak Perempuan Prancis Laurence Rossignol yang menyamakan Muslimah berjilbab dengan tindakan perbudakaan, memicu reaksi keras di media sosial dan mengundang petisi untuk memintanya mundur. Dilansir Aljazirah, berikut sejumlah komentar keras para netizen:

"Apa obsesi Prancis dengan jilbab. Ini cukup sederhana, serahkan semua pada perempuan untuk memutuskan dan berhenti memolitisasi itu," ujar akun Twitter @Nomad_LDN.

"Menteri Prancis #LaurenceRossignol: jilbab wanita Muslim seperti "negro mendukung perbudakan". Malu jika Presiden tak memecatnya," kata akun Twitter @yasserlouati.

"@RMCinfo @laurossignol Saya mengenakan jilbab dan saya wanita yang bebas, kuat dan intelektual, kamu, terlalu dengan ketidaktahuanmu," ujar akun Twitter MtiriHajer.

"Saya tak punya cukup kata-kata untuk mengekspresikan rasa jijik dan kemarahan saya pada hal-hal bodoh, rasis, tak benar, dan fanatik yang Laurence Rossignol katakan," kata akun Nocole C.

"Sudah beberapa jam seorang menteri Prancis menggunakan kata N dalam siaran langsungnya di radio dan televisi. Masih belum ada pernyataan dari @fhollande dan @manuelvalls," kata Aida Alami.

Sebuah petisi diluncurkan menyerukan menteri itu untuk mengundurkan diri pascakomentar rasialnya. Hanya beberapa jam setelah diluncurkan, petisi telah mengumpulkan lebih dari 10 ribu tanda tangan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketua TKN Buka Kegiatan Kamis Kerja

Kamis , 13 Dec 2018, 21:31 WIB