Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Ikatan Alumni Suriah Ingatkan Jangan Seret Konflik Suriah ke Indonesia

Sabtu 12 Mar 2016 22:34 WIB

Red: Nasih Nasrullah

Silatnas V Alsyami

Silatnas V Alsyami

Foto: Alsyami

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA—Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Alsyami) mengingatkan masyarakat Indonesia berhati-hati dan jangan gegabah menyikapi konflik yang tengah melanda Suriah.

Sekjen Alsyami M Najih Arromadloni menyarankan agar melihat peta konflik secara luas dan utuh, dengan memilah antara triggers (pemicu), privotal (akar), mobilizing (peran pemimpin), dan aggravating (faktor yang memperburuk atau memperuncing situasi konflik).

Sebab Najih mensinyalir ada banyak pihak yang berkepentingan menyeret konflik Suriah ke Indonesia. Mulai dari ISIS, hingga negara-negara pemasok senjata yang ingin meraup kepentingan di balik perang.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tak terpancing dan menghormati kelompok yang berbeda.”Jangan sampai kita dibentur-benturkan hingga lupa musuh nyata kita,” katanya di Jakarta, Sabtu (12/3).   

Ia mengatakan apa yang terjadi di Suriah, sejatinya bukan konflik sekterian melainkan tak terlepas dari konspirasi untuk memporakporandakan negeri Syam itu.

Parahnya kondisi ini diperburuk dengan provokasi media yang merekayasa konflik ini untuk kepentingan mereka.”Mereka bukan lagi penyampai fakta, tetapi produsen konflik itu sendiri,” tuturnya.

Ia menyarankan masyarakat agar menerima informasi dari sumber pertama, seperti Prof Taufiq Ramadhan al-Buthi dan para mahasiswa atau alumni Suriah selaku saksi mata.   

Najih menjelaskan, Alsyami memiliki concern untuk memberikan informasi akurat tentang fakta konflik Suriah. Komitmen tersebut terangkum dalam rekomendasi yang dihasilkan Silaturahim Nasional V Alsyami 5-7 Maret di Yogyakarta.  

Selain imbauan di atas, Alsyami juga merekomendasikan pemerintah agar tetap bersikap netral menyikapi konflik di Suriah dan Timur Tengah dengan selalu mengedapankan human security. Demi menjaga keutuhan Indonesia.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA