Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Banyak Kisah Perempuan Kuat dan Hebat di Alquran

Senin 10 Agustus 2015 11:28 WIB

Rep: Crystal Liestia/ Red: Damanhuri Zuhri

Mushaf Alquran.

Mushaf Alquran.

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Aktivis sekaligus pemrakarsa The Voice of Libyan Women, Alaa Murabit ingin menunjukkan kedudukan perempuan dalam Alquran. Menurutnya, tradisi di Libya yang selalu menjadikan perempuan berada di bawah laki-laki, tidak sesuai dengan Alquran.

Ketika berusia 15 tahun dia hijrah bersama kedua orang tua dan 10 saudaranya dari Kanada ke Libya. Pada saat itulah dia mengalami culture shock.

Sebelumnya ketika masih tinggal di Kanada, ibunya memperlakukannya dengan saudara-saudaranya sederajat. Namun hal itu dilarang adat setempat.

Dia meyakini larangan perempuan melakukan banyak hal yang dia mampu hanyalah tradisi masyarakat dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kemudian dia juga menegaskan telah menemukan beberapa kisah tentang perempuan yang kuat, tangguh dan terlibat dalam kepemimpinan yang diceritakan dalam Alquran.

Selain itu, dia juga mengklaim tradisi masyarakat setempat yang melarang perempuan bergerak yang diakui sebagai ajaran Islam sebenarnya tidak demikian.

Baginya ini hanya pembenaran saja, karena dia telah banyak menemukan kisah perempuan yang kuat dan inovatif dalam Alquran.

Oleh karena itulah dia membuat organisasi yang ingin menyuarakan aspirasi perempuan di Libya agar tidak diperlakukan rendah dengan organisasinya the Voice of Libyan Women.

Pada saat terjadi revolusi di Libya tahun 2011, Murabit turut berdemonstrasi dan berada di garda terdepan. Dia benar-benar ingin menunjukkan perempuan tidak selemah tradisi masyarakat Libya yakini.

"Para pembuat kebijakan yang bisa mengontrol kebijakan suatu negara, sayangnya tidak ada perempuan di sana. Sehingga kebijakannya hanya sesuai dengan kaum laki-laki," kata Murabit dalam sebuah talkshow Mei lalu, menurut Daily News, Senin (10/8).

Dia mengaku mendirikan organisasi tersebut karena ingin mengubah stigma negatif peran perempuan dalam bernegara.

Merujuk pada Alquran, dia ingin meyakinkan masyarakat negara Islam tersebut untuk menjadikan perempuan sebagai negarawan aktif. Karena baginya peran perempuan juga sangat penting dalam urusan bernegara, di samping peran laki-laki.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES