Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Pengobatan Ala Rasulullah (1)

Selasa 19 Aug 2014 15:51 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Chairul Akhmad

Seorang pasien berkonsultasi tentang kesehatannya di sebuah tempat pengobatan nabawi di Jakarta.

Seorang pasien berkonsultasi tentang kesehatannya di sebuah tempat pengobatan nabawi di Jakarta.

Foto: Republika/Agung Supriyanto/av

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak masyarakat protes pengobatan atas nama simbol Islam dan metode yang tidak jelas asal muasalnya. Sehingga, perlu diketahui metode dan cara pengobatan yang sesuai serta disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnaen mengatakan, pengobatan apa saja yang bentuknya dari ilmu tabib Cina, Arab, rukyah, maupun modern diperbolehkan asalkan meyakini kesembuhan berasal dari Allah SWT.

Sedangkan obat, teknik pengobatan, orang yang mengobati merupakan perantara saja. “Jika seseorang meyakini kesembuhan bukan selain Allah SWT maka dianggap syirik,” ujarnya.

Ustaz Tengku mewanti-wanti agar umat tetap berhati-hati memilih pengobatan. Masyarakat diimbau tidak lantas percaya dengan iming-iming sembuh seketika. Menurutnya, itu merupakan kebohongan besar jika ada pengobatan yang langsung menjamin kesembuhan setelah berobat. “Kesembuhan merupakan hak Allah SWT.”

Begitu juga dengan pengobatan alternatif dengan memindahkan penyakit. Dalam pengobatan Rasul bahkan sejak Nabi Adam tidak pernah ditemui pengobatan memindahkan penyakit ke hewan, tumbuhan, maupun benda-benda lain. “Pengobatan tersebut merupakan kebohongan besar,” kata ustaz yang juga ahli thibbun nabawi ini.

Selain itu, orang yang mengobati juga harus berjiwa sosial. Niatnya harus tulus mengobati bukan mencari keuntungan. “Apalagi, sampai menagih biaya hingga puluhan juta,” ujarnya.

Rasulullah SAW sendiri mengajarkan banyak ilmu kesehatan dan pengobatan. Tengku menjelaskan, umumnya penyakit bersumber dari perut sehingga kita harus menjaga kondisi lambung.

Lambung harus diisi seimbang antara makanan, air, dan udara. Satu saja tidak seimbang, pasti akan menimbulkan masalah hingga terserang penyakit. “Makanan jatahnya hanya sepertiga dari ruang lambung, sesuai kaidah Rasulullah,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA