Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Prof Dr M Quraish Shihab, Membaca Alquran Menghadirkan Allah

Jumat 28 Nov 2008 20:03 WIB

Red:

Namun, bukan berarti ia tidak tegas. Bila suatu masalah jelas-jelas haram atau halal, ayah lima anak ini akan mengatakannya langsung. Tawaran alternatif itu, bila suatu masalah masih khilafiyah, yakni para ulama masih berbeda pendapat. Jawaban dengan menyertakan berbagai alasan hukum -- baik tekstual maupun kontekstual -- itu dimungkinkan karena Dr Quraish Shihab adalah ahli tafsir yang hafal Alquran. Sejumlah buku, kebanyakan berkaitan dengan Alquran, telah ia tulis, antara lain: Membumikan Alquran, Wawasan Alquran, Tafsir Almanar, Keistimewaan dan Kekurangannya, Sekitar Kemukjizatan Alquran dari Segi Hukum, Mukjizat Alquran dari Segi Bahasa, Mahkota Tuntunan Ilahi, Lentera Hati, Yang Tersembunyi, Jalan Menuju Keabadian, Menuju Haji Mabrur, dan Panduan Puasa. Kini, pria kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1946 ini sedang menyelesaikan Tafsir Al Misbah sebanyak 30 juz, yang sekarang telah terbit 9 volume. Dalam waktu dekat juga segera terbit dua bukunya, Bekal Perjalanan dan 40 Hadis Qudsi Pilihan. Selain aktif menulis dan berceramah, sejumlah jabatan penting juga pernah ia jalani, antara lain Menteri Agama, Duta Besar RI untuk Mesir, dan Rektor IAIN Jakarta -- kini Universitas Islam Negeri (UIN). Hebatnya, ketika masih sibuk sebagai pejabat, doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir ini tetap menyempatkan menjawab berbagai pertanyaan dari pembaca Republika secara ajeg. Kepada Republika yang menemuinya di kediamannya di Jalan Jeruk Purut, Kemang, Jakarta Selatan, Senin lalu, Ustad Quraish berbicara banyak hal seputar kandungan, manfaat, dan keagungan Alquran, serta bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada kitab suci itu. Berikut petikannya:

Bagaimana menumbuhkan kecintaan masyarakat pada Alquran?

Selama ini sudah ada minat dan kecintaan mendengar ayat-ayat Alquran di masyarakat. Itu misalnya terlihat dari kaset-kaset yang dijual atau dalam acara-acara keagamaan yang selalu diperdengarkan ayat-ayat Alquran, baik melalui kaset maupun melalui qari/qariah. Hanya saja, ini kan memang belum sampai ke sana (kepada kecintaan Alquran yang sebenarnya--red). Karena itu, kecintaan terhadap Alquran semestinya lahir dalam wujud kecintaan mengamalkan ajaran-ajaran Alquran. Nah, kecintaan mengamalkan Alquran akan lahir sedikitnya dari dua faktor. Pertama, apabila ada pemahaman terhadap kandungan Alquran itu sendiri. Kedua, kecintaan mengamalkan Alquran itu akan timbul bila ada bukti konkret tentang keistimewaan isi Alquran. Bila kedua hal ini ada, insya Allah kecintaan mengamalkan Alquran itu akan lahir dan tumbuh berkembang. Masyarakat Islam selama ini tahu Alquran itu pedoman hidup mereka.

Tapi kenapa mereka malas membacanya, apalagi memahaminya?

Saya tidak yakin mereka semua tahu, mungkin hanya sebagian saja. Tapi, saya juga yakin apabila mereka tahu kandungan Alquran, mereka pasti tertarik mengamalkan isinya. Nah, karena itu harus ada upaya dari ulama, mubaligh dan mereka yang berkompeten di bidang ini untuk memberikan penjelasan yang lebih konkret, lebih nyata, dan lebih menarik menyangkut kandungan Alquran.

Apakah selama ini penjelasan tentang Alquran kurang memadai?

Kalau kita menyadari bahwa belum terasa cinta kepada Alquran itu berarti masih kurang. Kalau dinyatakan bahasa Alquran, yakni bahasa Arab, sebagai salah satu kendala, mungkin ada benarnya. Tapi sebenarnya pemahaman terhadap kandungan Alquran dapat ditempuh melalui penjelasan dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah, misalnya. Sayangnya, saat ini kan sangat sedikit orang yang mau menulis tentang hal tersebut. Bolehkan dalam rangka mencintai alquran, belajar langsung terjemahannya tanpa membaca teks Arabnya? Kalau untuk belajar, boleh. Tapi kalau untuk menafsirkan jelas tidak boleh.

Apa bedanya?

Kalau dalam terjemahan atau penafsiran, itu si penulis sudah menjelaskan maksudnya. Sedangkan dalam menafsirkan, yang menafsirkan itu berusaha memahami maksudnya. Misalkan, saya mempelajari tafsir Buya Hamka, maka saya akan mendapat penjelasan tafsir Buya Hamka itu menyangkut pandangan dan pemahamannya mengenai ayat itu. Beliau terangkan dalam bahasa Indonesia, maka saya mengerti. Tetapi kalau saya menafsirkan Alquran, maka penafsiran saya itu adalah pemahaman saya terhadap teks Alquran itu. Dan pemahaman itu tidak mungkin akan lahir secara penuh kalau saya tidak mengerti bahasa Alquran. Jadi, berbeda antara menafsirkan dan mempelajari kandungan Alquran.

Benarkah membaca Alquran tanpa mampu memahaminya sudah mendapatkan pahala dan karena itu dianjurkan?

Ya, jelas dianjurkan. Dengan catatan, selama yang bersangkutan menghayati keagungan kandungan Alquran dan berusaha mendekatkan diri kepadanya (kandungan Alquran). Satu contoh yang ingin saya sampaikan kepada Anda misalnya, anak-anak kecil yang mendengarkan lagu-lagu Barat kan belum tentu, bahkan kebanyakan mereka tak tau artinya, juga kandungan lagu itu. Tapi mereka kan merasa enak dan menikmati betul dengan hatinya. Begitu juga dengan membaca Alquran tanpa memahami artinya, atau hanya tahu sedikit. Ada kesan di dalam hati mereka menyangkut kebesaran Allah, bahwa ini adalah firman-firman Allah, dan seterusnya. Kesan itu boleh jadi pada lagunya, nadanya, dan lain sebagainya.

Jadi jelas ada manfaatnya. Nah, dorongan untuk menghadirkan Tuhan, untuk membesarkan Allah itulah yang mendapatkan pahala. Semangatnya itu yang utama. Adakah cara efektif untuk mempelajari Alquran?

Tentu saja ada. Selama ini saya melihat pengajaran pemahaman Alquran tidak terlalu efektif. Mungkin caranya pun tidak terlalu tepat. Kalau saya ingin gambarkan bagaimana cara mengajarkan Alquran di pesantren dan di IAIN banyak pengulangan. Saya pernah menulis dan saya katakan bahwa paling tinggi seorang dosen mengajarkan Alquran dalam satu semester hanya 25 ayat. Itu kalau dia mau menjelaskannya secara memadai. Jelas ini sangat sedikit, minim sekali. Padahal kandungan Alquran kan luas. Salah satu sebabnya yang membuat tidak efektif, karena kita menemukan kata demi kata seringkali disalahmaknakan, padahal kata itu sering diulang di tempat lain. Saya melihat ada dua cara efektif untuk memahami Alquran. Pertama, bisa menggunakan metode tematik bahkan segera sampai kepada sasaran apa yang dikehendaki. Atau kedua, kita mengajarkan kaidah-kaidah, sehingga ayat-ayat yang dipilih tidak berurut. Kalau berurut dari /alif lam mim dan seterusnya, sampai kapan nanti selesai. Spesialisasi saya adalah belajar Alquran, dan ini tidak kurang dari 40 tahun saya belajar Alquran, dan sampai saat ini pun saya terus mempelajari Alquran itu. Kalau saya mempelajari ayat-demi ayat tentu saja akan lama mencapai sasaran/target. Akan tetapi, kalau kita mempelajari kaidah-kaidah, rumus-rumusnya, persis seperti mempelajari rumus bahasa, grammer misalnya, orang bisa mempelajari grammer all in one system. Sehingga, ketika dia mempelajari suatu ayat, dia akan mendapatkan ayat lainnya. Katakanlah ketika seseorang mempelajari makna shiraathol mustaqiim di Al-Fatikhah, dia akan menemukan kalimat tersebut di ayat lain, sehingga dia tak usah mengulanginya karena sudah tahu maknanya. Cukup dia pelajari shiraathal mustaqiim di Al-Fatihhah, dan di ayat lain dia dengan sendirinya telah memahaminya tanpa mengulangi dari depan. Jadi memang harus diubah cara mempelajari dan memahami Alquran. Itu baru akan lebih efektif dari yang ada saat ini.

Apa rahasia diturunkannya Alquran secara bertahap?

Kalau secara langsung akan banyak kesulitan. Pertama, bila satu adat budaya yang sudah membudaya dan memasyarakat dalam satu komunitas sosial akan langsung dilarang, maka itu akan terasa berat. Misalnya, mereka yang sudah terbiasa dengan meminum [minuman keras], kalau langsung dilarang, maka itu akan berat. Karena itu salah satu dari tertib hukum Islam adalah pentahapan. Kedua, karena dia berinteraksi maka tentu saja timbul problema dalam satu masyarakat, timbul pertanyaan. Nah, pertanyaan-pertanyaan inilah yang dijawab. Seandainya dia [Alquran diturunkan] sekaligus, tidak bisa terjawab pertanyaan itu. Ketiga, mempermudah menghafalnya. Bisa dibayangkan, kalau ayat itu turun sekaligus, tidak mudah menghafalnya. Tapi bila turun sedikit demi sedikit, maka akan memudahkan menghafalnya, terus diamalkan, dan seterusnya. Ini juga yang memudahkan Nabi Muhammad SAW bila ada yang bertanya tentang sesuatu hal. Jadi ini di antara hikmahnya.

Mengapa setiap turun ayat Alquran ada sebab-musababnya (asbabun nuzul)?

Sebenarnya begini. Alquran itu kan berinteraksi dengan masyarakat. Alquran turun dalam suatu masyarakat yang berbudaya. Allah SWT mengajarkan manusia, mengajarkan ayat-ayat-Nya dengan mengaitkan dengan kondisi masyarakat yang ada, sehingga lebih jelas apa maksud ayat-ayat itu diturunkan. Kendatipun kita dapat mengatakan, tidak setiap ayat ada sebab rincinya, akan tetapi semua ayat berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat. Karena itu, orang harus memahami ayat Alquran itu pertama sesuai dengan kondisi saat itu, lalu dianalogikan dengan kondisi masyarakatnya sekarang untuk mengambil hikmah/pelajaran. hery sucipt/dokrep/Nopember 2002

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA