Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Perusahaan Jepang Kini Butuh Sertifikat Halal

Jumat 08 Aug 2014 14:39 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko

Rutinitas masyarakat Jepang

Rutinitas masyarakat Jepang

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID,  TOKYO -- Perusahaan-perusahaan Jepang mulai memikirkan pentingnya memiliki sertifikat halal. Ini dilakukan lantaran bisnis makanan halal Jepang sangat menjanjikan.

Melihat peluang itu, Halal Development Foundation tengah merintis mekanisme pemberian sertifikat halal. Mekanisme ini diharapkan menjadi jaminan masuknya produk-produk Jepang ke negara-negara Muslim. 

''Target kami pada dasarnya bisa membuat dunia usaha Jepang lebih sadar keuntungan sertifikasi halal. Pemerintah dan dunia usaha Jepang harus menyusun langkah serius perluasan informasi tentang halal,'' kata CEO Gulf Halal Center of Dubai, Syed Asad Sajjad Zaidi.

Jumlah wisatawan Muslim dari negara-negara Asia Tenggara juga terus meningkat seiring mudahnya visa masuk Jepang. Indonesia salah satunya, Jepang memberlakukan bebas visa selama 15 hari bagi wisatawan Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, pada 2013, lebih dari 300 ribu wisatawan yang datang ke Jepang berasal Indonesia dan Malaysia. Sementara pada 2011, jumlahnya hanya 140 ribu wisatawan.

Dalam Japan Halal Summit 2014, Senin (4/8), HDFJ berharap pertemuan ini akan membantu memudahkan perusahaan Jepang, swasta maupun pemeritah, memperoleh informasi akurat tentang seluk beluk halal. Sehingga bisa dihasilkan produk, teknologi dan layanan terbaik yang sesuai perspektif Islam.

Japan Halal Summit 2014 dihadiri organisasi dari sekitar 20 negara Muslim seperti Arab Saudi, Kuwait, Indonesia, Malaysia dan Pakistan. Kegiatan yang berlansung dua hari sejak Senin (4/8) itu juga dihadiri sekitar 80 perusahaan, perwakilan kementerian, dan berbagai organisasi lainnya di Jepang.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA