Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Muslim Pantai Gading Mendamba Hidup Damai (1)

Rabu 19 Feb 2014 13:01 WIB

Red: Chairul Akhmad

Muslim di Pantai Gading.

Muslim di Pantai Gading.

Foto: AP/Rebecca Blackwell

Oleh: Afriza Hanifa

Setelah melalui pergulatan panjang, Pantai Gading kini memiliki pemimpin Muslim.

Menyebut nama negara Pantai Gading, akan sangat banyak nama yang berbeda di setiap bahasa. Negara ini bernama Ivory Coast dalam bahasa Inggris, Côte d’Ivoire dalam bahasa Prancis, Costa de Marfil dalam bahasa Spanyol, Elfenbeinküste dalam bahasa Jerman, dan masih banyak nama lainnya.

Pantai Gading merupakan salah satu wilayah subsahara Afrika. Negeri makmur penghasil cokelat terbesar dunia ini berbatasan dengan Teluk Guinea, Burkina Faso, Mali, Guinea, Liberia, dan Ghana.

Seperti beberapa negara tetangganya, Pantai Gading pun memiliki banyak penduduk Muslim. Beberapa sumber bahkan menyebut mayoritas penduduk negara seluas 322 ribu kilometer persegi tersebut merupakan Muslimin.

Lain lagi data yang disampaikan lembaga riset Pew Forum. Menurut lembaga ini, Pantai Gading merupakan negara yang memiliki banyak Muslimin, namun mereka hidup sebagai minoritas.

Pada 2009 jumlah Muslim negara ini mencapai 7,745 juta jiwa atau hanya sekitar 36,7 persen dari total populasi negara. Angka tersebut sangat berbeda dengan yang dikeluarkan CIA Worldfact.

Menurut CIA, Islam merupakan agama mayoritas. Disebutkan, 40 persen penduduk Pantai Gading merupakan Muslim. Sedangkan, Kristen dan animisme masing-masing berjumlah 30 persen.

Adapun laman Islamonline menyebut, Pantai Gading memang berpenduduk mayoritas Muslim. Disebutkan, 60 persen dari total penduduk 16 juta jiwa menganut agama Islam, 22 persen memeluk Kristen dan Katolik, serta 18 persen penganut animisme. Sedangkan, menurut data PBB tahun 2010, jumlah penduduk Pantai Gading mencapai 21,6 juta jiwa.

Terlepas dari kebenaran angka-angka tersebut, Muslimin hidup nyaman di Pantai Gading layaknya kelompok penduduk mayoritas. Mereka bebas beragama dan leluasa menjalankan ibadah. Masjid banyak berdiri di negara bekas koloni Prancis tersebut. Salah satu masjid yang cukup megah berdiri di Ibu Kota Abidjan, yakni Masjid Grand-Bassam.

Muslimin pun merayakan hari raya dengan gembira. Dengan jumlah Muslimin yang besar, Pantai Gading kemudian bergabung dengan organisasi negara-negara Islam, yakni  Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 2001 sebagai anggota ke-57.

Islam pertama kali datang ke Pantai Gading melalui negara tetangganya, Mali. Pada abad ke-13 berdiri Kerajaan Mali yang salah satu misinya adalah menyebarkan dakwah Islam ke banyak wilayah Afrika Barat.

Selama empat abad menggelorakan misi dakwah itu, Mali berhasil mengislamkan banyak negara Afrika. Salah satu wilayah di Afrika Barat yang mendapat dakwah Islam dari Mali adalah Pantai Gading.

Sejak itu, Islam banyak dipeluk warga asli Pantai Gading. Ketika Prancis dan Portugis menjajah Mali pada abad ke-15, masuklah agama Kristen. Prancis baru memerdekakan negara ini pada abad ke-20.

Hingga kini, Mali didominasi dua agama, Islam dan Kristen. Sayangnya, pemeluk dua agama tersebut di Pantai Gading tak pernah harmonis. Pertikaian agama sering kali terjadi, apalagi dengan adanya isu imigran Muslim ilegal.

Tahun demi tahun, jumlah Muslimin di sana terus meningkat. Diantara mereka merupakan imigran dari negara tetangga, seperti Mali, Guinea, dan Burkina Faso.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Festival Panen Kopi Gayo

Rabu , 21 Nov 2018, 20:55 WIB