Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Anggota Parlemen Inggris Sebut Islam Bermasalah

Kamis 21 Nov 2013 19:32 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Inggris usai melakukan shalat Idul Fitri di Central Mosque London.

Muslim Inggris usai melakukan shalat Idul Fitri di Central Mosque London.

Foto: AP Photos

REPUBLIKA.CO.ID,  LONDON -- Anggota Partai Independent Inggris, Lord Pearson membuat suasana House of Lord (parlemen Inggris) memanas. Komentarnya yang menyerang komunitas Muslim jadi pemicunya.

"Masalah orang Islam itu adalah ada bagian dari ayat suci Alquran yang memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang kafir," kata dia seperti dilansir the news international, Kamis (21/11).

Menurut Perason, populasi Muslim yang terus berkembang menambah besarnya potensi lahirnya teroris. Ini dilihat, hukum syariah  berjalan secara de facto di Inggris. "Anda tahu, angka kelahiran mereka dua kali lipat," ucapnya.

Usut punya usut, komentar Pearson ini bualan. Ini tak terlepas dari kedekatannya dengan Geert Wilders, politikus anti-Islam Belanda. Keduanya sangat klop ketika berbicara komunitas Muslim.

Meski begitu tidak semua anggota House of  Lords menerima pandangan itu. Lord Bhatia, Lord Sheikh, Baroness Uddin, Lord Ahmed, Uskup Birmingham dan anggota lainnya. Komentar itu juga mendapat respon dari menteri pertama dari kalangan Muslim, Baroness Warsi.

"Pearson hanyalah orang yang tidak peduli dengan Islam, dengan mencoba mengubah gambaran sesungguhnya tentang Islam dan Muslim," kata dia.

Menurut Warsi, Islam seperti agama di dunia tidak membenarkan terorisme. Ideologi Alqaidah itu termasuk hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Itu sebabnya, mayoritas Muslim di seluruh dunia menolak ideologi mereka.

 

"Jika Islam dibenarkan sebagai teror, maka komunitas Muslim tidak akan mengutuknya," kata dia.

 

Warsi menambahkan Pearson perlu melihat sejarah dunia. Sebagai contoh saja, Benazir Bhutto, wanita pertama Pakistan yang menduduki jabatan perdana menteri pernah mengatakan di zaman ketika tidak ada negara, tidak ada sistem, ada kepercayaan bayi perempuan membawa sial, perempuan diposisikan sebagai harta, maka Islam memperlakukan perempuan sebagai individu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA