Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Komunitas Muslim di Bhutan Terus Bertambah (Bagian-2)

Senin 24 Jun 2013 20:36 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Raja Bhutan

Raja Bhutan

Foto: telegraph.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Afriza Hanifa

Kaum Muslimin tak kesulitan menemukan makanan halal.


Kesultanan Islam pun banyak berdiri di sana, salah satu yang terbesar, yakni Dinasti Mughal. Hanya saja, Buthan terluput dari wilayah emperium besar Islam pada abad ke- 16 tersebut.

Mughal di masa lalu hanya menduduki kawasan yang sekarang ini menjadi negara India, Afghanistan, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal.

Alhasil, Bhutan bukanlah negara di mana dakwah Islam berkembang. Sehingga, populasi Muslim di sana tak sebanyak negara Asia Selatan lain.

Meski Islam telah lama dikenal masyarakat Asia Selatan, menurut US Library of Congress, komunitas Muslim Bhutan baru mulai terlihat eksis pada 1989. Angkanya sangat kecil dan tak banyak mendapatkan hak kebebasan beragama.

Sebagai negara yang menjadikan Buddha sebagai agama resmi negara, Bhutan tak banyak menerapkan kebebasan beragama bagi rakyatnya, tapi semakin hari negara tersebut makin menerapkan asas demokrasi.

Kebebasan beagama mulai diterapkan pada pemeluk Hindu yang minoritas, tapi kemudian mendapatkan de facto kebebasan beragama. Adapun Muslimin, masih berjuang mendapatkan hak tersebut.

Meski Islam tak diakui, bukan berarti Islam dilarang. Muslimin hidup sebagaimana rakyat Bhutan pada umumnya. Mereka memiliki hak sebagai warga negara serta memiliki hak untuk bekerja.

Hanya satu hal yang tak diizinkan, yakni menyebarkan agama atau dakwah Islam. Oleh karenanya, jumlah Muslimin tak berkembang pesat di sana. Komunitas Muslim pun hanya hidup di kalangan mereka saja. Tapi, mereka dapat hidup nyaman di sana.

Muslimin Bhutan hidup sebagai minoritas, tapi mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik. Terdapat sebuah masjid yang menaungi mereka menjadi tempat ibadah dan sebagai sarana berkumpul.

Adapun fasilitas Muslim lain, seperti sekolah ataupun organisasi, tak jelas dikabarkan. Dalam hal pangan halal pun tak ada yang dapat mengonfirmasi kehalalannya. Badan sertifikasi halal pun tak jelas apakah dimiliki Muslimin setempat.

Tapi, hal tersebut bukanlah masalah. Mengingat sebagai negara yang mayoritas Buddha, Buthan memang memiliki lebih banyak ragam pangan vegetarian. Dengannya,


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA