Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Ranumnya Islam di Cook Islands

Senin 04 Mar 2013 07:04 WIB

Red: Heri Ruslan

Cook Islands

Cook Islands

Foto: flightsaustralia.com.au

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Kawasan Oceania amat kaya akan pulau-pulau kecil yang indah pemandangannya. Sebut saja Hawaii, Fiji, Vanuatu, Palau, termasuk Papua Nugini dan New Zaeland. Begitu banyak pulau eksotis di Samudera Pasifik tersebut. Salah satu yang tak boleh luput tentu saja Cook Islands.

Tentu tak berkaitan dengan masak memasak nama kepulauan seluas 240 kilometer tersebut. Nama Cook diambil dari nama seorang penjelajah Inggris, James Cook. Dialah yang pertama kali membuka kontak antara Cook Islands dengan Eropa, termasuk beberapa pulau lain di Oceania. Dalam sejarah negara, Cook Island lepas dari otonomi Selandia Baru kemudian membentuk pemerinahan sendiri dengan sistem demokrasi parlementer.

Digambarkan oleh LonelyPlanet, Cook Islands merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang memiliki keindahan luar biasa. Pasir pantai putih yang membentang ditambah ombak yang menari-nari dan pemandangan hijau pegunungan menjadikan kepulauan tersebut begitu sedap dipandang mata. Tak heran jika setiap tahunnya, Cook Islands dikunjungi sekitar 90 ribu wisatawan.

Houssain Kettani dalam "Muslim Population in Oceania" mengatakan tak jelas berapa jumlah muslim di Cook Islands. Pasalnya, perhitungan muslimin tak ikut serta dalam sensus negara tersebut. Meski demikian, Kettani menaksir jumlah muslimin di kepulauan tersebut sekitar 0,10 persen dari total penduduk sekitar 15 ribu jiwa. Angka perkiraan tersebut didapat dari data sensus yang menunjukkan terdapat 616 orang atau sekitar 4,10 persen yang mengakui agama selain yang terdaftar.

Dalam CIA World Factbook disebut penganut Protestan mendominasi penduduk Cook Islands dengan presentase mencapai 69,6 persen dari total penduduk. Agama lain yang dianut penduduk yakni Katholik Roma sebanyak 16,8 persen dan Mormon dengan 3,8 persen. Adapun 4,2 persen lain tercatat menganut agama selain ketiga agama tersebut, 2,6 persen tak dapat diidentifikasi, kemudian 3 persen tak menganut agama apapun.

Jika menilik sejarah silam Cook Islands, maka tak mengherankan jika kepulauan tersebut didominasi penganut kristiani. Pasca wafatnya James Cook pada 1779, para misionaris ditinggalkan di Cook Islands untuk membangun hubungan dengan masyarakat setempat.

Pendeta John Williams dari London Missionary Society (LMS) kemudian membangun umat kristiani disana. Agama Nashara pun mengakar kuat di kepulauan tersebut. Bahkan para missionaris pun meinggalkan gereja indah di kepulauan tersebut.

Dalam perkembangannya, Cook Island pun lebih berhubungan dekat dengan Amerika Serikat. Bahkan saat perang dunia kedua, Cook Island pun pernah menjadi lokasi lapangan terbang militer AS, lebih tepatnya di Pulau Penrhyn dan Aitutaki. Meski tak banyak terlibat dalam perang, Cook Island merupakan koloni yang tak bisa luput dari perhitungan AS dan Inggris.

Maka tak heran jika pengaruh Kristiani sangat kental di pulau tersebut. Sebagaimana pulau sekitarnya, termasuk Hawaii, agama penganut trinitas tersebut lebih tumbuh subur dibanding pulau-pulau lain di Samudera Pasifik.

Kendati demikian, Islam dapat masuk ke Cook Islands walaupun tak semudah masuknya Islam ke beberapa pulau sekitarnya seperti Fiji, New Celedonia, Solomon Island, ataupun Vanuatu. Berdasarkan pembagian lokasi Oceania, Cook Island memang berada di segitiga Polynesia.

Sementara Fiji, Caledonia dan sebagainya termasuk dalam kaawasan Melanesia. Dibanding Polynesia, kawasan Melanesia memang lebih familiar dengan agama Islam, apalagi lokasinya berdekatan dengan Indonesia, negara muslim terbesar dunia.

RG Crocombe dalam bukunya "Asia in the Pasific Islands: Replacing the West" menyebutkan tak jelas siapakah masyarakat Cook Islands yang pertama kali memeluk dan menyebarkan agama Islam. Namun ia menyebutkan dan menampilkan foto seorang diantara mereka yang bernama Tatiana Kautai. Berjilab, warga Cook Islands atau yang sering disebut dengan "Islander" tersebut merupakan satu dari beberapa pemeluk Islam pertama di kepulauan. Mereka diperkirakan berIslam sejak beberapa dekade terakhir.

Tak terdapat data ataupun kabar yang menyebutkan penyebaran Islam di Cook Islands. Namun, datangnya Islam ke kepulauan tersebut dimungkinkan seiring dengan masuknya Islam di kawasan Oceania. Sejak abad ke-17, Islam telah mulai dikenal masyarakat kepulauan Oceania. Saat itu, Islam dibawa dan disebarkan oleh pedagang Melayu dan Cina.

Namun kehadiran Islam di Oceania tersebut tentu tak meluas ke seluruh penjuru. Kawasan Melanesia dan Micronesia lah yang paling banyak tersentuh dengan peradaban Islam. Adapun Polynesia yang berada di timur jauh sedikit lebih lama mengenal Islam.

Penyebaran Islam di kawasan tersebut, termasuk Cook Islands diprediksi berasal dari dakwah Muslimin Melanesia dan Micronesia. Namun tak menghapus kemungkinan muslimin pulau justru langsung mengenal Islam ke tanah suci di Arab Saudi, Pulau Tuamotus misalnya. Tentangga Cook Island tersebut langsung mengenal Islam dengan perginya beberapa penduduk pulau ke Saudi.

Tak diakui, namun tumbuh

Saking minimnya jumlah muslim di Cook Islands, mereka tak diketahui eksistensiya. Apalagi kepulauan tersebut terkenal dengan rumah para penganut kristiani. Dalam Buletin Board of The Cook Islands "Tumunu" pun secara terang menyebutkan tak ada Muslimin di kepulauan tersebut. "Islam tidak ada disini, kami memiliki agama yang cukup," tulis buletin tersebut.

Namun tentu saja fakta data di lapangan berbeda. Meski berjumlah amat sangat sedikit, muslimin hidup di Cook Islands. Dakwah Islam pun tetap disyi'ar kan meski tak nampak dan belum terlihat hasilnya. "Terdapat beberapa Islander Muslim, berjumlah sedikit, tapi terus tumbuh," ujar Crocombe.

Meski keberadaan ereka diakui, namun tak ada yang mempublikasikan aktivitas mereka. Sebagai etnis minoritas, tentu kehidupan berIslam mereka cukup sulit. Terlepas dari julah mereka, tentu mereka membutuhkan fasilitas beribadah. Namun menurut data dari we Islamic Finder, tak ada satupun masjid atau tempat beribadah muslimin apapun disana. Organisasi keislaman pun tak dapat dideteksi keberadaannya.

Namun R.G. Crocombe berfikir berbeda. Meski tak jelas apakah terdapat masjid di Cook Islands, dia menduga muslimin di kepulauan tersebut menyediakan tempat untuk beribadah bersama. Pasalnya, setiap muslimin di kepulauan tertentu dipastikan sudah memiliki fasilitas ibadah sendiri. "Sekarang ini muslimin hampir ada di setiap pulau negara, dan sebagian besar negara sekarang ini setidaknya memiliki sebuah masjid," ujarnya.

Dalam memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam, menurut Crocome, telah ada terjemahan Alquran yang tersebar di Oceania. Kitab suci umat Islam tersebut diterjemahkan di setiap bahasa pulau setempat. Meski dai masih sangat minim, fasilitas apa adanya, muslimin antusias mempelajari agama akhir zaman ini. Jumlah mereka bukan tak mungkin akan terus meningkat, meski tak harus tumbuh pesat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA