Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Soal Penolakan Masjid, Muslim Murfreesbooro Merasa Dikhianati

Senin 06 Agu 2012 04:20 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Heri Ruslan

Muslim Amerika

Muslim Amerika

Foto: fiqhislam

REPUBLIKA.CO.ID,  MUFREESBORO -- Penolakan rencana pembangunan masjid di Mufreesboro berlanjut pada sentimen anti-Islam. Kemunculan sentimen itu merujuk pada dalih Islam bukanlah agama yang dilindungi konstitusi Amerika Serikat.

Pemuka agama Mufreesboro, Rev Darrel Whaley kepada harian The Tennesse mengungkap, pihaknya akan mengawasi apa yang umat Islam lakukan.

"Kami tidak akan menghalangi muslim beribadah di Masjid. Kami hanya menentang Islam," kata dia, seperti dimuat harian tersebut, Ahad (5/8).

Darrel bersama pemuka agama lain khawatir keberadaan masjid itu menjadi awal umat Islam menanamkan pengaruhnya. Disisi lain, penganut agama lain akan kehilangan pengaruh.

Sebelumnya, izin pembangunan masjid yang diajukan komunitas muslim disetujui otoritas lokal pada tahun 2010. Namun, warga lokal menentang izin tersebut. Anehnya, sebelum rencana pembangunan itu situasi keberagamaan di Murfreesboro begitu kondusif.

Pemilik koran lokal, Reader Ruhtherford, Pete Doughtie, mengungkap dirinya tidak mengetahui populasi muslim di Mufreesboro terus bertambah. Ia khawatir bertambahnya jumlah muslim akan dibarengi dengan kampanye jihad.

"Kami telah menjadi negara Kristen yang kuat, dan jika kita tidak menjaganya. Wajah bangsa ini akan berubah," kata dia.

Sosiolog Universitas California, Amy Binder melihat fenomena ini merupakan efek dari ketakutan para aktivis akan hilangnya budaya Amerika. "Yang kita lihat sekarang ini, masyarakat AS terutama para aktivis memahami dunia menjadi zero sum game, menang atau kalah," kata dia.

Binder menyamakan kelompok penentang masjid seperti halnya pengajar doktrin penciptaan alam semesta. Mereka mengaku kalah ketika mempertahankan doktrin itu. Selanjutnya, mereka berkumpul kembali dan mencoba strategi baru.

"Saya kira persis demikian," katanya.

Bagi komunitas muslim, penolakan terhadap pembangunan masjid dan cap ekstremis membuat mereka merasa dikhianati. "Disini dapat saya katakan tidak ada perang agama, namun perang antara kebaikan melawan kejahatan," tegas dia.

Menurutnya, ketika seseorang melihat muslim melakukan sesuatu yang mengerikan, yang terpikirkan adalah muslim itu orang jahat. Padahal, tidak semua muslim itu jahat. "Alangkah baiknya, kita bekerjasama menangkal semua perilaku jahat dan amoral dalam masyarakat," pintanya.

Imam Ossama Bahloul dari Islami Center menilai terlalu banyak pertanyaan tanpa memberikan kesempatan kepada pihak yang dipertanyakan untuk menjawab. "Jadi, tidak ada niat untuk mendengarkan," keluhnya.

Ke depan, ia berharap ada masa depan yang lebih baik untuk umat Islam. Sebuah masa yang menjamin konstitusi berlaku untuk semua warga Amerika.  "Awalnya, akan lahir sebuah fakta bahwa AS menjamin kebebasan beragama. Tapi, saat ini mungkin belum," kata dia.

sumber : onislam.net
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA