Friday, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 December 2018

Friday, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 December 2018

Marseille, Kota Harapan Muslim yang Kini Terancam

Senin 26 Mar 2012 23:18 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Chairul Akhmad

 Warga Muslim tengah melaksanakan shalat di salah satu masjid di Kota Marseille, Prancis.

Warga Muslim tengah melaksanakan shalat di salah satu masjid di Kota Marseille, Prancis.

Foto: channelnewsasia.com

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS – Terlepas dari tekanan yang dilakukan kalangan sayap kanan Prancis terhadap komunitas Muslim, Marseille tetaplah menjadi simbol dari penerimaan masyarakat Prancis terhadap keberagaman.

Sebab, di kota ini populasi tiga agama besar dunia, yakni Kristen, Islam dan Yahudi berbaur dalam rutinitas yang beragam.

Pakar Politik Boston College, Jonathan Laurence, menilai kekerasan yang terjadi di Touluose, Norwegia dan Jerman tidak berlangsung di kota pelabuhan, Marseille. Padahal kota, ini memiliki sejarah panjang persimpangan budaya Mediteranian.

Selama setengah abad, Marseille telah memiliki populasi Yahudi dan Islam terbesar di luar Kota Paris. "Dengan populasi sekitar 10 persen Yahudi dan 20 persen Muslim dari total populasi 840.000 jiwa, masyarakat Marseille terkenal karena toleransinya," ungkap dia seperti dikutip newyorktimes.com, Senin (26/3).

Dengan stereotip itu, Marseille menjadi kota yang relatif adem ayem. Sebagai contoh saja, dari 42.000 kasus pembakaran kendaraan di seluruh negeri, Marseille hanya mencatat satu kasus dalam setahun. Kota ini bahkan tidak terguncang dengan gerakan anti semit saat Palestina menggelar gerakan Intifada pada tahun 2000 dan 20001 silam.

"Puncaknya, ketika 300 kota sebagian besar mengalami kerusuhan di 2005, Marseille hanya memiliki sedikit gangguan. Dari kota ini pula, Prancis memiliki keberagaman dalam tim sepakbolanya. Demikian pula untuk tingkat politik, di mana kalangan imigran memiliki pengaruh yang besar," kata Laurence.

Lantas apa rahasianya? Dari karakteristik wilayah, kata Laurence, Marseille dibatasi oleh Laut Tengah dan pegunungan. Karakteristik itu membuat Marseille terintegrasi secara alami. Satu penelitian menunjukkan, anak-anak Prancis keturunan Afrika Utara di Marseille, tiga kali lebih mungkin untuk mempunyai teman dari latar belakang etnis yang berbeda ketimbang kota lain di Prancis. "Karena itu, kota ini menjadi harapan," kata dia.

Guna memperkuat "harapan" itu, pada musim panas tahun 2001, Walikota Prancis melakukan gebrakan untuk pendirian Federasi Islam. Federasi ini didirikan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada para Muslim untuk bersaing memperebutkan kursi di Dewan Daerah. Hasilnya, kini Muslim memiliki 73 masjid, termasuk 10 masjid di pusat kota.

Meski demikian, dinamisme masyarakat tidak bisa terelakan. Kejadian kekerasan dan kerusuhan tetap saja terjadi. Musim gugur tahun 2006 silam, 10 bus diserang perusuh dengan melemparkan bom molotov. Beruntung tidak ada korban jiwa. Namun, sebagian besar korban adalah imigran.

Belum lagi persoalan lain, seperti pembatalan pembangunan Masjid Agung Marseille. Lalu disusul dengan larangan perempuan mengenakan jilbab. Kondisi itu memang tidak terlepas dari pengaruh kelompok sayap kanan. Mereka secara simultan melakukan aksi dengan memainkan isu nasionalisme.

Akibat dari hal itu, memasuki tahun 2012, masyarakat Marseille—khususnya Muslim—mengalami ketakutan dan ketidakpercayaan. Jelas ada kemungkinan Marseille tidak lagi menjadi kota "harapan".

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketua TKN Buka Kegiatan Kamis Kerja

Kamis , 13 Dec 2018, 21:31 WIB