Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Ini Dia Pandangan Nietzsche Soal Multikulturalisme Eropa dan Islam

Rabu 27 Jul 2011 06:15 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Krisman Purwoko

Eurabia

Eurabia

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON--Eropa tengah mengalami krisis identitas dimana Islam masuk ke dalam pusaran tersebut. Krisis itu tergambar dari pemboman di Oslo, Norwegia dimana sang pelaku mengatakan pemboman yang dilakukan merupakan usaha untuk meredam perkembangan populasi Muslim sekaligus dukungan terhadap partai sayap kanan Eropa yang anti imigran.

Ibrahim Kalin, Cendikiawan Muslim dari Georgetown University, dalam essainya berjudul "Islamophobia dan Batas Multikulturalisme" mengatakan, perdebatan tentang Islam di Eropa merupakan dampak dari kepanikan masyarakat Eropa terhadap isu multikulturalisme. Isu tersebut mengkambinghitamkan perkembangan populasi Muslim di seantero Eropa.

David Tutt, Mahasiswa Doktroal, Sekolah Pascasarjana Eropa mengatakan, isu multikulturalisme sudah diramalkan filsuf asal Jerman, Nietzche. Dalam ramalan itu, ungkap Tutt, dikatakan Eropa akan berhadapan langsung dengan multikulturalisme. “Dalam banyak hal, Nietzsche pemikir besar pertama yang mengatakan hilangnya pandangan dunia keagamaan di Eropa. Ia bahkan mengatakan agama merupakan "bentuk tertinggi dari seni," kata dia seperti dikutip dari thehuffingtonpost.com, Selasa (26/7).

Tutt menjelaskan, inti perdebatan multikultural di Eropa adalah pertanyaan tentang nilai-nilai dan tradisi. Nietzsche mengatakan, nilai-nilai budaya dan tradisi adalah simbol dari seluruh peradaban. Karena itu, menurut Nietzsche, perlu reevaluasi silsilah dari nilai-nilai dekaden yang membawa Eropa ke tahap eksistensi. “Nilai-nilai perubahan itu menurut Nietzshe dibawa oleh Islam,” kata dia.

Dikatakan Tutt, realitas itu terekam dalam pandangan unik Nietzsche saat berusaha memahami pemikir Islam di zamannya. Nietzsche, kata Tutt, pernah membaca Alquran dan Hadist sebagai bahan pengantar analisis kendati dia belum pernah mendatangi negara Islam. Selanjutnya, Nietszche memperkaya analisisnya dengan melahap karya tulisan kaum orientalis Eropa.

Dikatakan Tutt, Nietzsche percaya  berdekatan dengan Muslim merupakan cara terbaik memahami dan menghargai tradisi Eropa dan mengungkap krisis nilai. Dalam sebuah surat kepada seorang teman, kata Tutt, Nietzsche sempat menulis bahwa  ia berharap bisa mengenal Islam, utamanya golongan konservatif dalam Islam.  

Dengan demikian, ia bisa memahami mengapa bangsa Eropa mengalami dekadensi nilai-nilai budaya dan tradisi. "Aku ingin hidup berada dekat kalangan Muslim, dengan cara ini, saya dapat mempertajam pandangan tentang Eropa,” kata Tutt menirukan pernyataan Nietzsche.

Dikatakan Tutts, sangat memungkinkan bahwa Nietzsche akan menjadi kritikus yang kuat dari multikulturalisme, terutama yang mempromosikan relativisme budaya dan kebenaran politik. Pada saat yang sama, diluar sisi baik dan jahat,  Nietzsche merupakan sosok yang menentang paham anti semit. Penentangan Nistszche secara otomatis mendapat dukungan dari umat Islam.

Yang menarik, kata Tutts, apakah Nietzsche lebih memilih Islam berasimilasi dengan Eropa, atau mempertahankan budaya sendiri, dalam artian komunitas budaya otonom di Eropa.Namun, kata dia, berdasarkan keinginannya untuk mempertahankan perbedaan yang jelas antara Islam dan Eropa,  jelas bahwa Nietzsche lebih suka melihat umat Islam mempertahankan budaya mereka sendiri dan tidak pasif berasimilasi ke Eropa yang sekuler. 

Dukungan kuatnya agar masyarakat Eropa berinteraksi dengan dunia Islam menyediakan kunci untuk memahami Islam. Namun, yang lebih penting,  Nietszche mungkin berharap dapat membantu Eropa lebih memahami krisis identitas mereka sendiri. 

sumber : thehufftingtonpost.com
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA