Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Siasati Fobia Islam, Desainer Muslim Padukan Hijab dengan Mode Terkini

Senin 24 January 2011 21:50 WIB

Red: Siwi Tri Puji B

Hana Tajima

Hana Tajima

Foto: .

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Bagaimana Anda menggabungkan fashion Barat dengan aturan berpakaian Muslim? Situs berita terbesar di Inggris, BBC, memuatnya dalam laporan utama mereka.

Fashion adalah bentuk ekspresi diri. Ini semua tentang bereksperimen dengan penampilan dan, dalam banyak kasus, untuk menarik perhatian.

Hijab, atau jilbab, justru sebaliknya. Ini tentang kesopanan dan menarik perhatian sesedikit mungkin.

Namun, semakin banyak perempuan Muslim yang berhasil menggabungkan keduanya.

Mereka mendapat inspirasi dari catwalk, jalan tinggi dan majalah fashion, dan mereka memberikan - BBC mengistilahkannya sebagai sentuhan jilbab yang friendly - penampilan baru Muslimah yang syari namun tak "aneh".

Di Inggris, mereka dikenal sebagai Hijabistas.

Jana Kossiabati, editor dari blog Hijab Style, yang mendapatkan sebanyak 2.300 kunjungan per hari menyatakan kaum muda Muslim semakin mencari fashion yang tidak membedakan mereka dari seluruh masyarakat."

Menurut Jana, kini banyak wanita Muslim yang sadar mode. "Generasi kita menjadi lebih sadar akan identitas mereka ketika sedang didorong masuk ke dalam pusat perhatian setelah Tragedi 11 September. Kami dipaksa untuk berurusan dengan orang-orang mempertanyakan iman kita, identitas kita dan cara pandang kita," ujarnya.

Hal ini mungkin telah mendorong beberapa wanita memilih untuk memakai jilbab - tetapi di sisi lain, mereka juga ingin tetap diterima masyarakat.

Hana Tajima Simpson menjadi ikon mode Inggris. Mualaf yang bersyahadat sejak lima tahun lalu ini awalnya mengaku sangat sulit untuk menemukan gaya sendiri, namun  tetap mengikuti aturan agama.

"Saya kehilangan banyak kepribadian saya melalui mengenakan jilbab pada awalnya, sampai akhirnya saya menemukan gaya sendiri," kata Hana, yang berasal dari latar belakang Inggris dan Jepang.

Ia memilih tak membeli busana Muslim di toko-toko kebutuhan Muslimah, namun mencoba berkreasi sendiri. "Butuh banyak trial and error untuk menemukan gaya sendiri yang nyaman bagi saya," ujar wanita 25 tahun ini.

Tak dinyana, banyak yang terkesan dengan gaya berpakaian Hana. Bahkan, ia kemudian membuat butik dengan merek sendiri, Maysaa. Pelanggannya kebanyakan adalah kaum muda Muslimah Inggris.

Menurut Hana, fobia Islam memang masih kental di Barat. Namun sikap itu muncul karena mereka tak mengenal kita. Busana, bisa menjembatani. "Buktinya, orang-orang di sekitar saya menerima saya dengan pakaian yang saya kenakan," ujarnya.

Sumber : BBC
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES