Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Kisah Secangkir Kopi: Peradaban Islam di Eropa

Kamis 19 February 2009 02:23 WIB

Red:

Jika Anda seorang penggemar kopi, sudah semestinya Anda tahu asal-usul kopi. Tulisan ini mencoba merinut sejarah awal ditemukan dan dikonsumsinya kopi.

Sebagian besar orang Amerika dan Eropa berpikir bahwa citra rasa kuliner orang “Islam” hanyalah terbatas kare, biryani, kebab, cane, pitta dan gula-gulan semacam kulfi, baklawa, dan sebagainya. Mereka tidak sadar banyak makanan dan minuman yang mereka anggap asli Barat ternyata berasal dari budaya Islam. Salah satunya adalah kopi, minuman beraroma khas yang saat ini hampir dapat kita temukan disajikan untuk hidangan sarapan di setiap rumah, terutma di Barat. 

Memang banyak yang tidak menyangka bahwa kopi pertama kali dikonsumsi dan dibudidayakan oleh umat Islam puluhan abad yang lalu, tepatnya di daerah Yaman. Mereka menikmatinya dengan cara merebusnya dan menjadikannya minuman yang masyhur disebut Qahwah. Awlanya, kopi ini merupakan konsumsi kaum sufi untuk menjadikannya kuat dan tahan zikir dan shalat malam, karena efek penyegar yang diakibatkan oleh kafein yang dikandungnya. Kopi merupakan salah satu cara ampuh membuat mata bertahan melek hingga jauh malam untuk beribadah. Dari Kaum sufi inilah kopi kemudian menjadi konsumsi umum di masyarakat Muslim Yaman dan baru kemudian dikenal di seluruh dunia Islam melalui para musafir dan jamaah haji. Kopi mulai menjangkau Makkah dan Turki sekitar akhir abad 15. Kemudian mulai dikenal di Kairo pada abad 16. 

Kopi Masuk Benua Eropa

Sumber sejarah mengindikasikan bahwa kopi masuk ke Benua Eropa melalui Italia. kerjasama dagang yang cukup baik antara Italia dengan Afrika Utara. Mesir dan Barat adalah awal perkenalan meraka terhadap kopi. Setelah mencoba rasanya, mereka pun yakin akan potensi pasar yang cukup besar di daratan Eropa. Sejak 1570, dimulailah import kopi ke Benua tersebut. Pada awalnya kopi masih merupakan minimuman elit di Eropa. Hanya orang-orang kaya yang dapat menikmatinya. Baru setelah banyak dijual di pasaran Wina, kopi menjadi konsumsi umum masyarakat. Kedai Kopi pertama kali di Wina dibuka pada 1645. Begitu digemarinya minuman asal Arab ini, pada 1763 sudah ada 218 kedai kopi di Wina. Perdagangan kopi pun meluas dari Wina ke Amalfi, Turin, Genoa, Milan, Florencia, dan Roma.Setelah itu, kopi kemudian tersebar ke seluruh Benua Eropa.

Kopi Masuk Indonesia melalui Belanda

Kurang jelas kapan tepatnya kopi dikenal di Belanda. Namun, Belanda waktu itu pernah menjadi negara eksporter kopi terbesar di Eropa. Diyakini bahwa Belanda pertama kali mendapatkan benih kopi dari masyarakat Muslim di Asia Timur. Dari benih tersebut, kemudian mereka tanam secara besar-besaran di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Dari Jawa inilah mereka sukses besar dalam bisnis kopi di Eropa.

Kopi Masuk Benua Amerika

Kopi dikenal di Benua Amerika melalui penjajahan Perancis di sebagian besar Benua tersebut. Kopi Perancis pertama kali dikenalkan di Martinique di mana kebun kopi ditemukan di sana.

 

Kopi Turki Menjadi Kopi Cappucino 

Cara masyarakat Eropa mengonsummsi kopi tidak jauh berbeda dengan masyarakat Muslim waktu itu, yaitu menghidangkannya sebagai minuman kopi murni. Kopi bubuk direbus dengan air kemudian ditambah gula untuk menghilangkan rasa pahitnya. Namaun, pada saat ini semakin banyak kita kenal kopi yang disajikan dalam bentuk campuran seperti susu, krimer atau bahan minuman lain seperti jahe dan ginseng serta penambahan berbagai jenis flavor selain kopi. 

Inovasi terhadap penyajian kopi ini diawali pada tahun 683, yakni sejak ditemukan kopi yang dikenal hingga kini dengan cappuccino. Cara penyajian ala cappuccino ini diinspirasi oleh pesanan Marco D'Aviano, seorang imam Biara Capuchin, yang ikut perang melawan pasukan Turki Ustmani di Benteng Wina 1683. Menyusul kemenangan mereka terhadap pasukan Turki, mereka menemukan karung berisi kopi yang ditinggalkan oleh tentara Turki. Namun bagi mereka rasa kopi tersebut terlalu kuat, dicampurkanlah ke dalamanya kream dan madu. Campuran ini menjadikan kopi berubah warnaya menjadi coklat yang mirip dengan warna jubah yang dikenakan Biara Capuchin. 

Penamaan cappuccino ini merupakan penghormatan untuk Marco D'Aviano's. Sejak saat itulah cappuccino menjadi minuman yang cukup digemari dengan rasa yang sangat enak. Cappucino juga menjadi simbol kemenangan Eropa terhadap Khilafah Turki Utsmani.

Nah, ternyata pengaruh budaya Islam terhadap Eropa sangatlah kuat dan banyak sekali, tidak hanya dalam bidang sains, teknologi, seni, dan arsitektur. Kisah di atas hanya menampilkan salah satu dari sekian banyak tradisi masyarakat Islam yang diadopsi oleh bangsa Eropa dan kemudian menyebar ke semua peradaban dunia. (taq/disarikan dari MuslimHeritage)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Inggris Bantai Panama 6-1

Ahad , 24 June 2018, 20:58 WIB