Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Umar bin Abdul Aziz Berhati-Hati Memberi Nafkah Keluarganya

Kamis 25 Apr 2019 05:05 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Ia sangat khawatir jika barang-barang haram masuk ke aliran darah keluarganya

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Hari itu cuaca begitu panas. Matahari sangat terik sejak pagi. Anak bungsu Khalifah Umar bin Abdul Aziz menghabiskan harinya dengan bermain sejak pagi. Ia pulang karena merasa sangat lapar.

Sesampainya di rumah, ia meminta makanan kepada ibunya. Namun, saat itu istri Khalifah, Fatimah, belum memasak sesuatu apa pun. “Pergilah berjumpa dengan ayahmu di baitul maal, mungkin dia dapat memberikan kamu sesuatu yang dapat dimakan,” ujar Fatimah pada anaknya.

Anak itu pun berlari-lari riang mencari ayahnya. Saat itu, dia mendapati ayahnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, masih bersama beberapa orang pegawainya. Mereka sedang menimbang sejumlah buah apel. Apel-apel itu rencananya akan dibagikan kepada mereka yang layak menerimanya.

Tiba-tiba, masuklah buah hati Khalifah menuju tumpukan buah apel. Ia lalu mengambil sebuah apel dari tumpukan tersebut dan hendak memakannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz melihat anak kesayangannya akan memakan buah apel itu. Dengan cepat ia merebut paksa apel itu dari mulut anaknya. Sehingga, buah hatinya menangis dan berlari pulang ke rumahnya.

Adik Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Sahal, yang turut menyaksikan kejadian tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, anakmu itu sedang lapar, toh kita masih mempunyai stok banyak buah apel untuk diberikan kepada orang banyak, sekiranya hilang satu buah tentu tidaklah menjadi kerugian.”

Sesungguhnya, Sahal tidak sampai hati melihat keponakannya yang sedang lapar itu menangis. Ketika sebuah apel yang hendak dimasukkan ke dalam mulutnya direbut oleh ayahnya.

Sang Khalifah hanya berdiam diri mendengar kata-kata adiknya ini. Hatinya sendiri ketika itu sedang gelisah. Dia terpaksa memilih antara keridhaan Allah SWT dan keinginan anak kesayangannya. Namun, ia lebih memilih mengutamakan keridhaan Allah SWT.

Selesai dengan pekerjaannya di baitul maal, Khalifah Umar segera pulang ke rumah menemui anak bungsunya. Khalifah langsung memeluk dan mencium buah hatinya. Namun, dia mencium harumnya buah apel pada mulut si bungsu anaknya. Khalifah Umar segera memanggil istrinya, Fatimah. “Wahai Fatimah, dari mana kamu dapatkan buah apel untuk anak kita?” tanya Khalifah Umar.

Fatimah menjawab seraya menjelaskan kepada suaminya, “Anak itu sedang kelaparan tadi siang dan ia ingin sekali memakan buah apel, lalu akhirnya saya belikan sebuah di pasar, apel itulah yang dimakannya untuk menahan rasa laparnya.”

Sambil menangis, Khalifah Umar pun menceritakan kejadian siang tadi terkait anak bungsunya di baitul maal. Ia berkata, “Wahai istriku, Fatimah. Ketika aku merebut buah apel itu dari mulut anak kita, sungguh, aku merasakan seperti merengut jantungku sendiri. Tetapi, apa daya, karena aku sangat takut akan api neraka yang akan membakar anak kita, jadi aku rebut buah apel itu dari mulutnya.”

Begitulah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang hamba Allah. Ia yang merupakan seorang khalifah, mukmin, bertakwa, dan wara mencontohkan kehati-hatiannya. Ia sangat khawatir jika barang-barang haram masuk ke aliran darah keluarganya. Ia berharap seluruh keluarganya, bahkan rakyatnya, bisa mencapai surga Allah SWT.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA