Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa Ramadhan

Rabu 27 Mar 2019 05:52 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ilustrasi Ramadhan

Ilustrasi Ramadhan

Foto: Reuters/Mani Rana
Kebahagiaan puasa bisa ditinjau dari segi fisik dan ruhani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi kaum Muslimin. Tidak hanya itu, puasa itu juga termasuk salah satu Rukun Islam. Demikianlah arti penting puasa yang disyariatkan Nabi Muhammad SAW.

Setidak-tidaknya, terdapat dua jenis kebahagiaan yang akan dirasakan orang berpuasa. Pertama, secara jasmani atau duniawi. Maknanya, ada perasaan lega ketika seseorang yang telah berpuasa seharian, kemudian berbuka di kala maghrib tiba. Mereka bersyukur kepada Allah SWT atas karunia sajian untuk berbuka puasa. Tidak hanya itu, rasa senang juga timbul dari dalam diri karena dapat menuntaskan perintah-Nya.

Baca Juga

Belasan jam lamanya diri berpuasa, menahan dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya. Apa-apa yang selama ini boleh untuk memenuhi kebutuhan biologis, menjadi tertahan (imsak). Karena itu, momentum berbuka puasa adalah kebahagiaan tersendiri. Itu menjadi sebuah pencapaian paling berharga secara lahiriah.

Kedua, secara ruhaniah atau ukhrawi. Kebahagiaan jenis ini hanya akan dirasakan bagi mereka yang berpuasa secara total. Dalam arti, imsak tidak hanya menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa secara fikih. Seseorang yang berpuasa juga menahan lisannya dari berkata buruk, perbuatannya dari perilaku yang jahat, serta hati dan pikirannya dari melalaikan perintah Allah SWT.

Puasa berbeda daripada ibadah-ibadah lain. Puasa hanya bisa diketahui antara diri seorang hamba dan Rabbnya. Dalam suatu hadis qudsi disebutkan, puasa adalah untuk Allah. "Allah telah berkata: 'Semua amalan anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku. Akulah yang memberi ganjarannya."

Karena itu, kebahagiaan ruhaniah ini terpicu dari kian dekatnya diri seorang Muslim dengan ridha Allah Ta'ala. Inilah dimensi ibadah puasa yang sejati, lantaran mengubah seseorang agar kian bertakwa.

Dua jenis kebahagiaan tersebut sesungguhnya sudah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, "Seseorang yang berpuasa akan berbahagia karena dua hal: ketika dia berbuka puasa dan dia bahagia karenanya ketika dia bertemu dengan Tuhannya, ia akan berbahagia bahwa dia telah puasa."

Sumber : Pusat Data Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA