Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Kisah Tiga Orang yang Terkurung dalam Gua

Senin 04 Mar 2019 14:34 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Gua-gua yang tercatat dalam sejarah Islam.

Gua-gua yang tercatat dalam sejarah Islam.

Foto: republika
Tiga orang itu bertawasul kepada Allah untuk bisa keluar dari dalam gua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seseorang bisa mendapatkan ganjaran selama hidup di dunia dari perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Hal itulah yang terjadi pada tiga orang yang terkurung di dalam gua. Kisah tentang mereka disampaikan dalam hadits Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

"Ada tiga orang yang sedang berjalan kaki. Mereka lantas kehujanan, sehingga berteduh di dalam gua yang terdapat pada sebuah gunung. Tiba-tiba, sebuah batu besar meluncur dari atas dan jatuh tepat di mulut gua tersebut. Mereka pun terkurung di dalamnya.

Salah seorang dari mereka kemudian menyampaikan pendapatnya kepada yang lain, 'Ketahuilah amal-amal baik yang pernah kalian perbuat untuk Allah. Kemudian, berdoalah kepada Allah dengannya (menyebutkan amalan itu). Mudah-mudahan, Allah memberikan kelonggaran dari (musibah) kalian ini.'

Baca Juga

Maka salah seorang dari mereka berdoa, 'Ya Allah, dahulu aku memiliki orang tua yang sudah sangat tua, seorang istri, dan anak-anak yang aku rawat. Ketika sore hari, aku memerah susu. Aku lalu pertama-tama memberikan minum (dengan susu itu) kepada orang tuaku, baru kemudian anak-anakku.

Suatu ketika, aku berpergian jauh (untuk mencari makan bagi hewan ternak peliharaan). Aku baru pulang pada petang hari. Aku dapati dua orang tuaku sudah tidur. Aku lantas memerah susu seperti biasa, kemudian kubawa susu tersebut. Aku berdiri di dekat mereka karena tidak ingin mengejutkan mereka (sehingga mereka terbangun). Aku juga tidak ingin memberikan susu itu kepada anak-anakku sebelum mereka menikmatinya.

Sementara itu, anak-anakku merengek di kedua kakiku. Demikianlah aku dan anak-anakku tetap dalam keadaan seperti itu hingga waktu subuh tiba. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) agar kami dapat keluar dan melihat langit (bebas).'

Allah kemudian membukakan (batu penghalang mulut gua itu) sedikit, sehingga para pria itu dapat melihat dari celah itu langit.

(Berikutnya), yang lain berdoa, 'Ya Allah, dahulu aku mempunyai seorang sepupu perempuan yang aku sangat cintai, (rasa cinta) seperti halnya kaum laki-laki kepada perempuan. Aku ingin meminta (berhubungan) dengannya, tetapi dia menolak permintaanku sehingga aku dapat memberinya seratus dinar.

Aku pun bekerja keras untuk mengumpulkan uang seratus dinar. Setelah itu, aku kembali kepadanya dengan membawa uang tersebut. Saat aku sudah di antara kedua kakinya, dia berkata, 'Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah engkau membuka cincin (melakukan hubungan seksual) kecuali dengan haknya.'

Akhirnya, aku beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) untuk kami.' Allah kemudian membukakan sedikit (batu penghalang mulut gua).

(Terakhir) yang lainnya berkata, 'Ya Allah, dahulu aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu firaq beras. Setelah selesai, dia berkata, 'Berikan hakku padaku.' Aku lantas menawarkan upah firaq-nya, tetapi dia tidak menghendakinya. Aku kemudian menanamnya, sehingga (dari) hasilnya aku dapat membeli sapi beserta penggembalanya.

Lalu, dia datang kepadaku dan berkata, 'Takutlah kepada Allah dan jangan kamu berbuat zalim kepadaku.' Aku berkata, 'Pergilah kepada sapi-sapi itu bersama penggembalanya, silakan ambil seluruhnya.' Dia berkata, 'Takutlah kepada Allah, jangan kamu menjadikanku olok-olok.'

Aku katakan, 'Aku tidak sedang memperolokmu, silakan kamu ambil sapi-sapi itu beserta dengan penggembalanya.' Dia pun mau mengambil semuanya dan pergi. Jika Engkau mengetahui aku telah melakukan amalan tersebut hanya demi menemukan wajah-Mu, maka bukalah (mulut gua itu) untuk kami.' Allah kemudian membukakan sisanya (batu penghalang mulut gua)."

Demikianlah kisah mereka yang melakukan tawasul dengan menyebut amalan-amallan salih masing-masing. Dari doa tersebut, tampak setiap mereka pernah melakukan perbuatan baik dalam hidupnya. Ada yang berbakti kepada orang tua, menghindari zina, dan menjaga amanah harta orang yang menjadi pegawainya.

Allah SWT mengabulkan permintaan mereka, sehingga terbukalah batu besar yang menghalangi jalan keluarnya dari gua. Hal itu dapat menjadi pelajaran bagi kita. Bersabarlah dalam saat ditimpa masalah. Lantas, bila keadaan lapang, selalu ingat untuk berbuat baik atau menghindari maksiat. Semoga dengan perbuatan itu, Sang Pencipta menghindarkan kita dari masalah di masa depan.

Di manakah lokasi cerita ini? Umar Sulaiman al-Asyqar dalam Shahihul Qashash an-Nabawy menuturkan, ada sebagian sumber yang menyebut lokasinya adalah gua para ashabul kahfi. Namun, dia cenderung menyangkalnya karena kisah dalam hadits di atas berbeda daripada kisah ashabul kahfi.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA