Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Umar Bin Abdul Aziz Kirim Juru Dakwah ke Tibet

Rabu 05 Dec 2018 19:51 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Agung Lhasa, Tibet.

Masjid Agung Lhasa, Tibet.

Foto: bujangmasjid.blogspot.com
Momen itu menjadi tonggak penting perkembangan Islam di Tibet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Tibet, rasanya bukan nama yang terlalu asing. Namun, di mana tepatnya wilayah ini berada? Tibet adalah kawasan dataran tinggi di timur laut Pegunungan Himalaya, yang karena ketinggiannya sering disebut sebagai atap dunia. Tibet yang rata-rata tanahnya membentang pada ketinggian 4.900 meter di atas permukaan laut, kerap diklaim sebagai negeri berpenghuni yang berada di titik tertinggi Bumi.

Wilayah yang hari ini berada di bawah Pemerintahan Republik Rakyat Cina itu merupakan tanah air masyarakat Tibet serta beberapa kelompok etnis lainnya, seperti Monpas, Qiang, dan Lobus. Selain itu, daerah ini sekarang juga dihuni oleh sejumlah besar orang dari suku Han dan Hui.

Secara geografis, Tibet berbatasan dengan Nepal, Bhutan, India, serta Xinjiang, Qinghai, dan Sichuan, yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, dengan Lhasa sebagai ibu kotanya. Menurut sensus 2010, jumlah penduduk Tibet mencapai tiga juta jiwa.

Di tengah mayoritas pemeluk Buddha, ternyata terdapat masyarakat Muslim yang telah tinggal di wilayah ini turun-temurun. Jumlah mereka memang tidak banyak. Menurut satu laporan, sekitar 23 ribu jiwa.

Laporan lain menyebut, sebelum 1959, terdapat sekitar 3.000 Muslim di Tibet Tengah. Mereka adalah keturunan dari pedagang Muslim yang datang ke Tibet pada abad ke-14 dan 17. Para pedagang Muslim itu berasal dari Kashmir, Ladakh, Nepal, dan Cina. Di Tibet, para pedagang Muslim itu berbicara menggunakan bahasa Tibet dan mengikuti sebagian besar adat istiadat setempat.

Secara historis, bangsa Tibet dan Islam memang memiliki hubungan yang erat. Beberapa catatan mengungkap, umat Islam telah tinggal di Tibet sejak abad kedelapan atau kesembilan Masehi . Mereka menjalin hubungan politik, perdagangan, dan kebudayaan dengan masyarakat setempat.

Keeratan hubungan itu terekam dalam beberapa catatan para sejarawan di era kekhalifahan. Dalam sejumlah tulisannya, sejarawan Muslim, seperti Yaqut Hamawi, Ibnu Khaldun, dan Tabari menyebut-nyebut nama Tibet. Bahkan, dalam bukunya bertajuk Muajumal  Buldan (Ensiklopedia Negara-negara), Yaqut Hamawi menyebut Tibet dengan tiga sebutan, yakni Tabbat, Tibet, dan Tubbet.

Ketika Umar bin Abdul Aziz memegang tampuk pemerintahan Dinasti Umayyah pada 717-720, para delegasi dari Tibet dan Cina pernah meminta sang khalifah untuk mengirim juru dakwah Islam ke negeri mereka. Memenuhi permintaan itu, Umar kemudian mengutus Salah bin Abdullah Hanafi ke Tibet.

Momen itu menjadi tonggak penting perkembangan Islam di Tibet. Ketika Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus digulingkan oleh Abbasiyah, hubungan dengan Tibet tak lantas runtuh. Para penguasa Abbasiyah di Baghdad tetap memelihara hubungan baik dengan negeri Tibet. Pada masa itu, tidak sedikit kaum Muslimin yang memutuskan untuk menetap di Tibet dan menikahi perempuan lokal.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Mengenang Tragedi Rawagede Karawang

Selasa , 11 Dec 2018, 23:21 WIB