Tuesday, 15 Muharram 1440 / 25 September 2018

Tuesday, 15 Muharram 1440 / 25 September 2018

Mengenal Ibnu Bajjah

Ahad 08 July 2018 12:09 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Dia dijuluki al-wazir al-hakim atau menteri yang ahli hikmah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ratna Ajeng Tejomukti

Pria yang bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin as-Sai`igh ini dikenal menguasai sejumlah bidang keilmuan, seperti filsafat, matematika, biologi, astronomi, logika, tata bahasa, sastra, dan musik. Orang mengenalnya sebagai Ibnu Bajjah yang dilahirkan di Saragossa, utara Spanyol pada 475 Hijriyah dan tutup usia di Fez (Maroko) pada Ramadhan tahun 533 Hijriyah.

Ibnu Bajjah menulis beberapa komentar tentang Aristoteles. Hal sama juga dilakukan para filsuf paripatetik atau masyaiyah lainnya, seperti Abu Ya'qub al-Kindi, Abu Nasr al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.

Dia dijuluki al-wazir al-hakim atau menteri yang ahli hikmah. Dia telah mendapatkan nama dan ketenaran setelah memegang jabatan menteri untuk dua penguasa.

Pertama di Saragossa yang ketika itu dikuasai dinasti al- Murabitun pada 503/1110. Setelah itu, Ibnu Bajjah diangkat menjadi wazir oleh penguasa Yahya bin Yusuf bin Tashufin selama 20 tahun.

Berikut adalah tiga hal yang berkaitan dengan kehidupan sang alim.

Pemikiran dan Kitab Karangannya

Pemikiran filosofisnya tercermin dalam Risalah Ittisal al-'Aql bil-Insan (Risalah tentang Keterkaitan Intelek dengan Manusia) dan kitab Tadbirul Mutawahhid. Karyanya yang bertahan adalah Kitabun Nafs (Buku tentang Jiwa), sebuah risalah filosofis tentang psikologi yang memengaruhi intelektual setelahnya, seperti Ibnu Tufayl dan Ibnu Rusyd.

Selain keduanya, karya Ibnu Bajjah juga mewarnai dunia intelektual di Barat. Di sana dia dikenal sebagai Avempace. Gagasannya tentang jiwa dan falsafah dibahas dalam bahasa Latin dan Ibrani.

Karyanya, seperti Tadbirul Mutawahhid, Risalah Ittisal, dan Risalatul Wada diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan dibaca secara luas di Eropa.

Ibnu Rusyd mengakui dalam bukunya Talkhis Kitabun Nafsbahwa apa yang ia nyatakan tentang pikiran adalah pandangan Ibn Bajjah dan filsuf Muslim sebelumnya secara kritis.

Kitab tentang Jiwa

Teks Kitabun Nafssudah tak lagi lengkap.Beberapa halamannya hilang. Dalam buku ini, Avempace telah memberikan penjelasan tentang sifat Jiwa di bawah 11 bab yang masing- masing dimaksudkan untuk menjelaskan dimensi tertentu.

Kitabun NafsIbnu Bajjah adalah risalah filosofis tentang psikologi. Buku ini merujuk kepada buku De Animakarangan Aristoteles, Plato, Alexander Aphrodisias, Galen, dan Themistius. Dari para filsuf Muslim, ia mengacu pada Farabi dengan kagum dan juga menyebutkan Ghazali dengan hormat.

Filsuf Muslim lainnya seperti Ibnu Sina juga membahas tentang jiwa, seperti dalam karyanya, Kitabun Najat. Pandangan psikologis Ibnu Sina dibahas panjang lebar oleh intelektual Islam Prof Fazlurrahman dalam karyanya berjudul Avicenna's Psychology

Pembahasan Jiwa

Dalam Kitabun Nafs,Ibn Bajjah memaparkan analisis psikologi yang dinamis. Di dalamnya ada penjelasan ayat Ilahi tentang jiwa beserta bagiannya. Dia telah mengadopsi metodologi studi falsafah yang mendasarkan pada metafisika dan psikologi. Menurut dia, pengetahuan dalam diri manusia adalah hasil observasi yang menandakan keberadaannya.

Pengetahuan adalah anugerah yang tidak datang dengan sendirinya. Di dalamnya ada hidayah Ilahi, yang membuat seseorang mengetahui banyak hal tentang alam dan kehidupan sekitarnya. Dia tak semata-mata terkait dengan yang kasat mata, tapi juga batin.

Unsur metafisis yang menyertai berbagai realitas telah menjadi objek kajian filsuf masyaiyah di berbagai zaman. Seperti filsuf Muslim lainnya, Ibnu Bajjah membahas teori pengetahuan, jiwa, kenabian, dan penciptaan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pencari Puing Waduk Jatigede (1)

Senin , 24 September 2018, 23:59 WIB