Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Nasihat Sang Ibu

Kamis 14 June 2018 14:35 WIB

Red: Agung Sasongko

(Ilustrasi) Seorang ibu memegang wajah anaknya yang menangis ketika berbelanja di Seoul, Korea Selatan.

(Ilustrasi) Seorang ibu memegang wajah anaknya yang menangis ketika berbelanja di Seoul, Korea Selatan.

Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji
Rangkaian syair ini pun mampu menggelorakan semangat berjihad buah hatinya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadari (hidup mereka).” (QS al-Baqarah [2]: 154).

Di balik kedahsyatan sebuah peperangan, selalu saja muncul kisah yang mengharu biru. Seperti yang terlihat dari sosok al-Khansa bin Amru. Syair-syair yang berisikan nasihat atau petuah bijak untuk keempat putranya, terabadikan hingga kini sebagai bukti akan ketabahan seorang ibu. Rangkaian syair ini pun mampu menggelorakan semangat berjihad buah hatinya. 

Puncak kisah itu berlangsung pada 14 Hijriyah, ketika terjadi peperangan melawan tentara Persia. Al-Khansa turut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Khalifah Umat bin Khatab tersebut. Ia dan sekelompok perempuan bertugas merawat pasukan yang terluka.

Dalam perang yang melibatkan 41 ribu mujahid itu, al-Khansa mengerahkan keempat putranya untuk berjuang di jalan Allah SWT. Ia pun telah menyusun rangkaian syair dan nasihat yang isinya mengobarkan semangat mereka. Di antaranya:

“Wahai anak-anakku, kalian telah memilih Islam dengan rela hati. Kalian telah tahu pahala apa yang disediakan oleh Allah bagi Muslim yang memerangi kaum kafir itu. Ketahuilah bahwa dunia yang kekal tersebut jauh lebih baik dari kampung yang binasa.”

Keempat anaknya tersebut mendengarkan nasihat sang ibu dengan berbangga hati.

Khansa pun melanjutkan nasihatnya, juga menambahkannya dengan membacakan ayat-ayat suci Alquran. Khansa kemudian membacakan sebuah syair gubahannya. Ini menjadi syair terindah dan selalu diingat anak-anaknya.

“Saat esok pagi menjelang maka kalian bangun dan keluarlah untuk memerangi musuhmu. Gunakan semua pengalamanmu dan kerahkan semua tenagamu, serta mohonlah pertolongan dari Allah.”

“Jika kamu berada di tengah api pertempuran yang semakin menghebat dan bergejolak, masuklah kamu ke dalamnya. Masuklah dalam inti peperangan tersebut dan kau akan berjaya mendapatkan balasan yang kekal,” katanya.

Sambil menunduk, anak-anaknya meresapi kata-kata sang ibu. Bahkan, kata-kata yang langsung merasuk ke jiwa tersebut membuat mereka menitikkan air mata.

Pada keesokan harinya, setelah shalat Subuh, perang pun dimulai. Berbekal persenjataan dan strategi matang serta arahan dari panglima, pasukan Islam pun dengan semangat berhadapan dengan lawan.

Perang tersebut sebetulnya tak imbang dari segi jumlah. Tentara Persia diperkuat 200 ribu personel, sedangkan dari pihak Muslim hanya seperempatnya. Hal ini tak membuat semangat jihad tentara Islam gentar sedikit pun. Mereka yakin pertolongan Allah akan datang membantu.     

Keberanian yang besar ditunjukkan oleh para putra Khansa. Sambil menghunuskan pedang dan menghadapi para musuh, mereka selalu ingat nasihat terakhir yang diberikan sang ibu. Mereka percaya syair yang ditulis ibunda mereka tersebut layaknya mutiara yang indah dan berfaedah.

Peperangan hebat itu berlangsung selama beberapa hari. Kedua belah pihak menyiapkan strategi secara maksimal. Tentara Persia bahkan mengerahkan pasukan dengan gajah-gajah yang ukurannya sangat besar.

Namun, tentara Muslim tak menyerah. Mereka bisa memanfaatkan pasukan gajah tersebut dan berganti menguntungkan mereka. Mereka menggunakan gajah-gajah tersebut untuk bersembunyi dan menghindari hujan anak panah dari pihak musuh.

Tentara Muslim juga membuat gajah-gajah tersebut cedera dengan cara memanah mata mereka. Pasukan gajah tersebut mengamuk karena mata mereka terluka dan bergerak tak beraturan, menginjak para pasukan Persia, dan menghempaskan para tentara yang menunggangi mereka.

Panglima tentara Persia pun dapat dikalahkan. Perang yang tadinya hampir tak mungkin dimenangkan oleh tentara Muslim, keadaannya berbalik. Tentara Muslim kembali pulang dengan membawa kemenangan. Tentara Persia yang bisa selamat langsung lari tunggang langgang.

Usai perang berakhir, para tentara Muslim pun bergerak untuk menolong pasukan yang terluka dan mengidentifikasi saudara-saudaranya yang gugur berjihad di jalan-Nya tersebut. Dari 41 ribu orang pasukan, sebanyak 7.000 gugur di medan perang. Di antaranya segenap putra Khansa, keempat-empatnya syahid.

Mendengar kabar tersebut, Khansa justru bisa menerimanya dengan tenang tanpa berguncang jiwanya. Justru ia malah tersenyum lega dan bersyukur serta terus memuji asma Allah.

“Segala puji bagi Allah, yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka. Aku mengharapkan dari-Mu ya Allah, kumpulkanlah aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rahmat-Mu,” katanya.

Kemudian, Khansa dan pasukan lainnya pun meninggalkan medan pertempuran. Mereka kembali ke Madinah. Orang-orang Muslim pun menganggumi ketegaran sang ibu ini, yang bisa berlapang dada saat buah hati yang dilahirkan dari rahimnya gugur, mati syahid.

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES