Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Masjid Baiturrahman Prototipe Masjid di Nusantara

Senin 11 Juni 2018 17:14 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko

Umat muslim melaksanakan salat Tarawih pertama bulan Ramadan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (16/5).

Umat muslim melaksanakan salat Tarawih pertama bulan Ramadan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (16/5).

Foto: Antara/Irwansyah Putra
ada sejarah panjang antara masjid dan rakyat Aceh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aceh dan Islam merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Daerah yang berjulukan Serambi Makkah ini adalah yang paling awal memunculkan keraja an Islam. Dahulu kala, provinsi paling barat di Indonesia itu menjadi tempat singgah kapal-kapal dari dan menuju Tanah Suci.

Selama berabad-abad, banyak di antara para haji itu memasukkan wacana-wacana penting ke Nusantara terkait modernisme, nasionalisme, serta kesadaran antipenjajahan.

Salah satu bukti peradaban Islam di sana adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini didirikan pada masa Iskandar Muda yang memerintah Kesultanan Aceh pada 1022 Hijriyah atau 1612 Masehi.

Sang sultan kemudian menamakannya Masjid Raya. Letak kompleks rumah ibadah ini berada dijantung kota Banda Aceh sehingga menjadi ikon budaya yang di kenal luas sampai sekarang. Tidak lengkap rasa nya wisata di Aceh tanpa mengun jungi tempat ini.

photo

Umat muslim melaksanakan salat Tarawih pertama bulan Ramadan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (16/5). Mayoritas umat muslim di Provinsi yang telah memberlakukan hukum Syariat Islam melaksanakan ibadah puasa sesuai jadwal yang ditetapkan Pemerintah pada 17 Mei 2018.

Menurut situs resmi pariwisata Indonesia, tempat sujud ini dianggap sebagai prototipe kebanyakan masjid di Indonesia dan Malaysia. Hal ini lantaran keindahan dan kemegahan, serta nilai sejarahnya yang tinggi. Abdul Baqir Zein dalam Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia menilai Masjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu masjid terindah di Asia Tenggara.

Di balik keindahan dan kemegahannya, lanjut dia, ada sejarah panjang yang membuat masjid ini begitu dekat di hati dan pikiran masyarakat Aceh. Sebab, Masjid Raya Baiturrahman sejak semula tidak sekadar tempat publik untuk beribadah, tetapi juga pusat perjuangan kolektif kaum Muslim setempat untuk mewujudkan masyarakat madani. Di sini pula para pahlawan dahulu mengadakan musyawarah besar untuk menyusun strategi perlawanan terhadap Kompeni/Belanda.

Masjid Raya Baiturrahman pernah terbakar habis karena diserang pasukan Belanda pada April 1873. Pertempuran ini berlangsung dahsyat. Meskipun mengalami ke kalahan, perjuangan rakyat dan pemimpin Aceh menyebabkan tewasnya Mayjen Khohler.

photo

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Di tempat tertembaknya petinggi militer Belanda itu, didirikanlah sebuah monumen kecil untuk mengenang jihad masyarakat Aceh. Letak monumen tersebut di bawah pohon ketapang (geulumpang) dekat pintu masuk sebelah utara kompleks masjid ini.

Selanjutnya, hubungan Aceh dan Belanda mulai mereda. Pada Maret 1877, gubernur jenderal Hindia Belanda van Lansberge mendekati pihak bangsawan Aceh untuk berunding. Dia pun mengumumkan janji akan ikut membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang hangus akibat pertempuran silam. Alasannya, Belanda memahami besarnya pengaruh masjid tersebut untuk rakyat Aceh.

Pada Oktober 1879, pihak Belanda mulai mewujudkan janjinya. Peletakan batu pertama dilakukan oleh perwakilan Aceh, yakni Tengku Qadhi Malikul Adil. Sekitar tiga tahun kemudian, Masjid Raya Baiturrahman siap dibangun kembali kali ini kubahnya hanya satu unit yang terpasang.

Memasuki abad ke-20, Aceh terus berkembang menjadi negeri yang cukup makmur. Pada 1935, kompleks Masjid Raya Baiturrahman mengalami perluasan pada bagian kanan dan kiri. Ada tambahan dua unit kubah sehingga mempercantik penampilan bangunan kebanggaan rakyat Aceh ini. Bentuk hasil renovasi ini yang memili tiga unit kubah terus bertahan hingga prok lamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945.

Pada masa itu, banyak ulama dan kelompok pergerakan yang berjuang membebaskan Aceh dari belenggu penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang. Memang, hubungan Aceh dengan Jakarta sempat renggang secara politik setelah Teungku M Daud Beureu'eh menyatakan kekecewaan rakyat Aceh akan janji-janji Presiden Sukarno pada 1953. Sebab, bergabungnya Aceh dengan Indonesia pada saat itu ternyata tidak diiringi penerapan syariat Islam sebagai dasar negara.

photo

Warga memadati halaman masjid Raya Baiturrahman yang telah dibangun payung elektrik di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (13/5). Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M itu kini dilengkapi 12 unit payung elektrik, tempat wudu dan area parkir bawah tanah dengan anggaran Rp458 miliar yang diperkirakan mampu menampung 24.400 jamaah.

Aceh merupakan salah satu daerah modal ketika republik baru berusia seumur jagung. Sebagai contoh, pesawat pertama yang dimiliki pemerintah RI, Dakota RI-001, dibeli dengan uang yang berasal dari sumbangan emas dan perhiasan rakyat Aceh.

Pesawat yang bernama panggil Seulawah ini (bahasa Aceh, artinya `gunung emas') berjasa besar dalam perjuangan awal pembentukan Indonesia. Presiden Sukarno sendiri menamakan menara utama Masjid Raya Baiturrahman sebagai Tugu Aceh Daerah Modal Republik Indonesia lantaran menilai besarnya jasa rakyat setempat bagi pembangunan nasional.

Menjelang akhir 1950-an, ketegangan sempat mereda. Hal ini dibuktikan antara lain dengan perhatian pemerintah pusat, melalui SK Menteri Agama RI tertanggal 31 Oktober 1957.

Menurut Abdul Baqir Zein, salah satu hasilnya dari kebijakan ini adalah renovasi Masjid Raya Baiturrahman. Ada penambahan dua kubah lagi di bagian belakang masjid ini. Pengerjaannya selesai pada 1967. Dengan demikian, Masjid Raya Baiturrahman sekarang memiliki lima unit kubah.

Di zaman Presiden Suharto, Banda Aceh menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada Juni 1981. Masjid Raya Baiturrahman dikondisikan sebagai pusat penyelenggaraan acara sehingga diperindah sebelum hari puncak MTQ itu.

Bagian depan, pekarangan, dan jalan- jalan sekitar bangunan utama dipasangi lampu-lampu indah. Tempat wudhu juga diperbanyak dengan bahan dari porselin. Pintu krawang, lampu gantung chandelier, juga dipasang.

Selain itu, pada dinding dan kubah masjid ini juga dihiasi dengan tulisan kaligrafi ayat-ayat suci Alquran dari bahan kuningan. Tidak ketinggalan, renovasi juga membangun intalasi air mancur di kolam halaman depan Masjid Raya Baiturrahman.

Renovasi kembali terjadi pada 199. Kali ini, Masjid Raya Baiturrahman diperluas sehingga meliputi halaman depan dan belakang serta bangunan utamanya. Ada penam bahan dua unit kubah, serta bagian lantai tempat para jamaah shalat juga diperluas.

photo

Masjid Raya Baiturrahman (Aceh) tempo dulu.

Fasilitas-fasilitas publik di masjid ini diperkaya dengan pendirian ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula ruang tempat wudhu, serta enam unit madrasah. Untuk memperindah kompleks rumah ibadah ini secara keseluruhan, pemerintah memperluas halaman dan menghiasinya dengan taman-taman dan satu menara utama serta dua unit minaret (menara kecil). Dengan begitu, Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Aceh.

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi dan tsunami skala besar melanda Aceh dan sekitarnya. Alhamdulillah, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu bangunan yang selamat tanpa kerusakan yang berarti.Bahkan, rumah Allah ini menjadi tempat berlindung bagi banyak warga saat bencana itu datang. Dalam kejadian ini, tidak kurang dari 250 ribu jiwa menjadi korban.

Secara umum, penampilan Masjid Raya Baiturrahman menyerupai Taj Mahal di India. Warna dominannya adalah putih, sedangkan kubah-kubah hitam menaungi pada bagian atasnya. Saat ini, masjid tersebut dilengkapi dengan menara utama setinggi 35 meter, tujuh kubah utama, dan tujuh unit menara-menara kecil.

Sejak 2017, Masjid Raya Baiturrahman juga kian dipercantik dengan 12 payung elektrik yang mengembang otomatis. Lantaran payung-payung ini, suasana di sana menyerupai Masjid Nabawi di Madinah.

Tidak hanya itu, kapasitas masjid ini juga diperbanyak sehingga dapat menampung hingga 24 ribu jamaah, baik di dalam maupun luar bangunan utama. Ada pula tempat parkir kendaraan yang terletak di bawah tanah, serta dilengkapi eskalator. Kapasitasnya muat hingga sekira 300 unit mobil dan 340 sepeda motor.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA